Kata-kata di atas sangat sederhana, tapi kumpulan katanya (kalimatnya) agak menggelitik untuk dicermati lebih lanjut. Untuk mulai menyelami kalimat diatas.

 

Hampir semua kepercayaan dan keyakinan yang ada, menempatkan alkohol sebagai minuman yang tidak baik untuk dikonsumsi, bahkan ada yang terang-terangan melarang untuk dikonsumsi. Ini sungguh menarik untuk dilihat lebih jauh sebagai pijakan kita untuk membahas topik utamanya.

Menurut pandangan saya, alkohol adalah “simbol” dari benda atau sesuatu yang bisa menghilangkan (paling tidak mengganggu) kesadaran kita.

Mengapa alkohol saya sebut sebagai simbol?

Saya melihat alkohol dibuat kambing hitam sebagai sesuatu yang memabukkan, yang menghilangkan kesadaran. Lebih jauh ada yang menyatakan kalau alkohol adalah sumber dari banyak kejahatan yang ada dimasyarakat. Saya tidak menampik anggapan semacam itu, karena banyak kasus memang demikian.

 

Tapi apakah orang yang tidak minum alkohol dijamin tidak mabuk?

 

Marilah kita renungkan pelan-pelan, dan kita tidak akan membahas lebih lanjut mengenai alkohol karena kita akan mencoba melihat sesuatu yang lain.

Saat saya renungkan ternyata semua orang bisa mabuk! Sekalipun mereka tidak mengenal apa itu alkohol. Dalam pandangan saya, istilah mabuk memiliki makna yang lebih luas dan sangat dalam, bukan arti yang sempit seperti “teler” atau jalan sempoyongan. “Mabuk” dalam pengertian ini, adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak ingat, atau tidak sadar akan perbuatannya. Keadaan yang demikian bisa dialami semua orang sekalipun mereka yang digolongkan secara umum orang baik-baik.

Ternyata banyak hal (bukan hanya benda tapi kondisi atau sesuatu yang lain juga) yang bisa membuat orang mabuk. Ada yang dimabuk cinta, ada yang dimabuk harta, ada yang dimabuk pangkat, bahkan ada yang mabuk dengan nama baik, ada yang mabuk pahlawan, ada yang dimabuk kemashuran/ketenaran dan seterusnya.

Dan apabila mabuk ini sudah pada tahapan yang lebih tinggi, mabuk ini berubah menjadi “edan” bener-bener “gile” orang Jakarta bilang.

 

Kang Paijan, punya kebiasaan dua jam hanya untuk dandan. Hp-nya selalu ganti tiap bulan, menghamburkan semua uang gajian. Tiap sore nongkrong di perempatan, dengan gaya orang kantoran. Semua itu dilakukan hanya untuk memikat hati Jeng Wulan. Demi Jeng Wulan, Kang Paijan tak segan-segan berkorban. Sewa mobil sedan juga dilakukan, agar Wulan bisa diajak jalan. Namun sungguh malang nasib Paijan, karena Wulan sudah punya pria idaman. Akibat cintanya tak keturutan, Paijan lantas lupa ingatan.

 

Pak Parmo, orang paling kaya di desa, mobilnya lima istrinya dua. Rumah bak istana, perabotanya asli dari Jepara. Hidup mewah tidak kekurangan apa-apa, layaknya tinggal di surga. Tapi kenapa gaji karyawan selalu ditunda? Semua karyawan diperas untuk kerja, sedangkan pedoman UMR dia tidak punya. Jangankan hari raya, mertua mati saja dia masih kerja. Dasar pak Parmo memang gila!

 

Lek Pardi, pegawai negri. Hari ini berangkat pagi, ngantor di kecamatan Purwadadi. Seluruh perintah Pak Camat tak pernah ditaati, dia malah mencari-cari kesalahan camat untuk dilaporkan Bupati. Minggu lalu Dia pergi ke rumah Bupati, membawa oleh-oleh meja kursi semua dari kayu jati. Sungguh pinter Lek Pardi dalam mengambil hati, sampai tega mengorbankan teman sendiri. Dia mengoceh kalau pak Camat perlu diganti, dan sudah pasti yang paling cocok hanya dirinya sendiri. Sungguh Lek Pardi tidak punya hati, karena dia senang mengambil hati.

 

Itulah beberapa gambaran orang yang mabuk, keadaan ini ternyata sangat akrab disekitar kita. Orang kadang untuk menempuh tujuan tertentu, dia bisa bertindak secara tidak rasional. Ada yang hanya mabuk ringan, biasanya keinginan yang dicari tidak begitu menggebu-gebu. Sehingga dampak yang ditimbulkannya-pun cukup pening kepala saja.

 

Karena banyaknya faktor yang bisa membuat kita mabuk, kita bahkan sangat rawan untuk ikut mabuk. Karena kita memang berada “di jalur mabuk”, he…he…he…

Mungkin kita bisa menanyakan pada diri kita sendiri, dengan pertanyaan singkat. “Saya sedang mabuk apa ya?”. Kemudian kita mencoba menjawabnya sendiri, dengan pertanyaan pula seperti “Dalam satu hari, setiap harinya, impian atau angan-angan apa yang paling sering muncul di pikiran kita?” atau “Apa yang paling sering kita pikirkan sepanjang hari?”. Apabila kita dengan jujur bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, maka kita sudah melihat pokok permasalahan atau penyebab mabuk kita. Kalau kita sudah tahu penyebabnya, selanjutnya terserah anda……………. Apakah diteruskan mabuknya, disadari kemudian di rem, atau sama sekali diputus. Semua terserah seperti apa pilihan kita.

 

Semoga kita tidak sedang mabuk,

Semoga kita tetap sadar dan eling,

 

 

mbah uplik

28/05-06; 01:20