Senang! Satu kata yang diburu orang seluruh dunia. Ada orang yang bekerja siang dan malam, dengan harapan bisa mendapatkan uang untuk membeli kesenangan baik berupa benda maupun hiburan. Beberapa orang berupaya segala cara untuk memperoleh jabatan demi kekuasaan yang menyenangkan.

Dari seluruh pergulatan kita sepanjang hari setiap hari, ujung-ujungnya untuk memperoleh kesenangan. Sebagian orang mungkin dengan malu-malu mengakuinya, dan berdalih bahwa mereka kerja untuk hidup. Tapi mereka tidak mau mengakui bahwa mereka menginginkan hidup yang lebih enak(menyenangkan), hanya berkilah bahwa “Saya hanya ingin hidup lebih layak”. Menurut saya, itu hanya kata-kata yang diplintir-plintir yang pada dasarnya punya makna “sami mawon”.

 

Sedih! Mungkin tidak masalah ataupun sulit untuk menyebutkan kata-kata ini. Tapi sulit sekali menerima keadaan ini bila menimpa kita. Karena si “sedih” ini, saat menimpa kita ada semacam penderitaan yang menyakitkan didalam diri kita. Keadaan semacam inilah yang kita takuti sepanjang waktu dan kita berusaha mati-matian untuk lari dari nya. Sayang sekali sampai saat ini pabrik obat masih belum bisa menemukan pil anti sedih. Mungkin itu lebih baik biar orang kerja hanya untuk tujuan hidup enak, tidak ada tambahan beban untuk membeli pil anti sedih juga.

 

Pada suatu hari, (agak serius) teman saya bertanya,”Mas, gimana ya, biar saya lepas dari kesedihan?” tentu saja pertanyaan itu pelan mengiba, dengan raut muka ditekuk. “Lepaskan saja semua yang membuatmu senang!” jawab saya dengan santai. Temenku itu lantas terperanjat, “Loh kok malah lucu sampean, bukan berarti kita lebih menderita?”.

Akhirnya pembicaraan pun berlanjut cukup menarik, dan lebih bagus kita bahas saja secara ringkas biar tidak kebanyakan tanda petik(“).

Senang dan sedih adalah bentuk dualitas yang ada secara fakta. Kita tidak bisa hanya memilih senang saja tanpa kesedihan mengikuti ataupun mendahuluinya, seperti apapun bentuk dan kondisinya. Kita mendapatkan gajian di akhir bulan setelah kita bekerja selama sebulan, kita memanen padi setelah kehabisan rasa capek selama 3 bulan lamanya, seorang ibu harus mengandung bayi selama 9 bulan setelah kesenangan yang dilaluinya dan mugkin kesenangan pula setelah bayi mungil terlahir. Dan seluruh konflik kita sepanjang hari yang kita hadapi, yang mewujudkan “Dilema”/”Trilema” dst, dua keadaan itu(senang dan sedih) pasti ada didalamnya. Seperti misalnya kita diundang temen akrab kita mengahadiri pernikahan atau sesuatu yang lain, sementara kita masih punya tanggung jawab yang belum kita rampungkan, setelah melalui pertimbangan yang bijaksana, kita akan memilih salah satunya bukan?. Apapun yang kita pilih, dua fakta ini sudah pasti ada. Bila kita pergi, kita pasti tidak jadi tidak enak(tidak tidak enak) sama teman kita yang kawin tadi. Mungkin agak membingungkan, seperti ini: “enak” lawan katanya “tidak enak” tentu saja “enak” sama dengan “tidak tidak enak”. Mungkin agak matematis, tapi bisa direnungkan sebentar. Nah saat kita tidak jadi tidak enak, dengan temen kita, kita sudah meninggalkan tanggung jawab kita yang tentu saja ada perasaan tidak enak disini. Apabila keputusan kita memilih tidak pergi, mungkin tanggung jawab kita lebih penting. Maka kita jadi tidak enak sama temen akrab kita, karena tak bisa hadir di acara tersebut. Tapi disisi lain, semua tanggung jawab kita bisa kita selesaikan dan ada perasaan enak disini.

 

Dari seluruh kejadian diatas, dan mungkin dengan kejadian-kijadian kita yang pernah kita lalui dan kita coba renungkan, ternyata enak dan tidak enak, atau sedih dan senang selalu saja berdampingan. Jadi bagaimana mungkin kita memperoleh kesenangan tanpa kesedihan? Ini adalah keadaan seperti siang dan malam, apabila keadaan hari seperti sekarang terus (siang hari) tentu kita tidak punya konsep tentang malam hari. Dan bahkan konsep siang-pun malah tidak ada. Kenapa repot repot memberi nama siang pada keadaan yang hanya seperti ini secara statis.

 

Kalau tadi kita hanya takut untuk sedih sekarang kita malah takut juga untuk senang, he…he…he…

 

Marilah kita merenung sejenak, perasaan takut dan lari dari masalah maupun mencari perlindungan menurut saya adalah perilaku yang kekanak-kanakan. Lebih bagus saya rasa untuk mempelajari duduk persoalan dan pokok permasalahan yang kita hadapi secara dewasa. Saat kita lari dari pokok masalah yang kita hadapi, tentu kita tidak akan pernah menyelesaikan masalah tersebut. Kita hanya bisa menerima keadaan-keadaan tersebut seperti apa adanya. Mungkin ada kesan pasrah pada kalimat saya tersebut. Tapi bukan, ini adalah sesuatu yang lain, kita coba menerima apa adanya, secara sadar bahwa segala kesedihan yang kita terima adalah juga kesenangan yang kita terima dan begitu pula sebaliknya.

 

Saat kita dalami keadaan ini, maka kita akan merasakan hidup yang benar-benar utuh dan indah secara nyata! Kita tidak akan masuk ke golongan orang-rang yang cepat panik ataupun latah. Saat kita senang, kita tidak akan terlena dalam kesenangan yang berlebihan dan pula saat-saat kita sedih, kita tidak akan larut dalam kesedihan siang dan malam. Karena kita pahami bahwa senang tak akan hadir sendirian begitu pula sedih. Saat kita sedih, kita usahakan untuk mengingat secara sadar senang yang mendahului ataupun mengikutinya nanti. Keadaan sadar yang dalam, pada situasi ini bukanlah bentuk dari menghibur diri. Karena menghibur diri, adalah bentuk-bentuk pelarian dari suatu masalah dimana didalamnya masih ada rasa kawatir dan kemungkinan-kemungkinan yang semuanya belum pasti.

 

Sejak dulu kita sudah menemukan konsep-konsep “nrimo” dalam bahasa jawa, tapi konsep ini karena tidak didalami, akhirnya hanya memunculkan arti yang kurang pas di benak kita sebagai ungkapan pasrah tanpa berbuat apa-apa. Menurut pandangan saya, “nrimo” ini haruslah diartikan menerima apa adanya dengan penuh kesadaran. Yang kita samakan seperti melihat apa adanya, mendengar apa adanya! Tanpa ada tabir yang menutupi maupun tak ada sesuatu yang ditambahkan dari apa yang kita lihat maupun apa yang kita dengar. Dari keadaan menerima apa adanya, diharapkan tidak akan mucul kekecewaan disatu sisi, maupun kesombongan disisi lain. Semua seperti apa adanya, tanpa polesan, suci mungkin kata puitis yang cocok untuk ini.

Saat kita bisa menerima semua hal seperti apa adanya, hendaknya kita buang jauh pikiran malas yang muncul. Walaupun tidak ada hubungannya, kadang-kadang menerima seperti apa adanya selalu dipakai alasan untuk suatu kemalasan. Tidak sedikit orang dan bahkan mungkin diantara kita yang karena malas, kita menggunakan kata “nrimo” sebagai alasan untuk membenarkan kemalasan kita. Memang agak sulit memilah-milah, apakah itu bentuk kemalasan atau “nrimo” tadi, tapi hati kita yang paling dalam selalu tahu akan kebenaran yang sebenarnya dan jujur, kecuali pikiran sedang kacau. Jangankan hati, mikir yang bener saja kadang bisa jadi tidak bener.

 

Mungkin sampai disini, masih ada yang bertanya-tanya, keuntungan dari sikap nrimo ini lebih jelas. Sebelum kita lihat hal-hal positif yang kita peroleh dari nrimo ini, kita mencoba berangan-angan atau membayangkan keadaan teman atau seseorang yang pernah kita kenal. Situasi saat dia hanyut dalam gemerlapnya kesenangan yang penuh dengan kenikmatan. Keadaan-keadaan seperti ini tentu saja ingin diulangnya lagi atau dia ingin berada pada keadaan seperti itu lagi. Atau bahkan dia dengan segala macam cara, ingin selalu seperti itu, dia ingin menggenggam kenikmatan itu makin erat. Dan pada saat dia tidak sedang berada pada posisi itu atau dia tidak sedang menikmati kenikmatan itu, maka dia akan sedih. Semakin tinggi keinginan akan kenikmatan itu, apabila tidak terpenuhi, maka kesedihan yang dialaminya semakin hebat pula. Seperti kita melempar bola ke dinding, semakin keras kita melemparnya, semakin keras juga pantulannya. Untuk itu kita hendaknya menerima kenikmatan itu secara sadar sebagai kenikmatan biasa, yang bisa kita nikmati apa adanya, tidak terlalu berlebihan bahkan ada diantara kita yang kadang lupa daratan(ungkapan untuk mabuk kesenangan mungkin).

Begitu pula halnya saat kita sedang dirundung kesedihan, mungkin keadaan semacam ini sering terjadi saat kita kehilangan sesuatu atau seseorang yang kita sukai atau cintai. Semakin tinggi suka kita atau cinta kita, maka kesedihan kita juga akan makin tinggi pula. Dan perlu waktu yang agak lama untuk melupakan atau menyembuhkan diri kita dari kesedihan ini bila cinta itu makin melekat. Contoh yang lebih jelas mungkin saat kita menerima telpon tentang kematian orang tua temen kita, mungkin kita sudah cukup dengan ungkapan bela sungkawa, ikut prihatin dengan keadaan temen kita itu. Juga misalnya kita lihat di berita sore yang sering menampilkan orang mati(tidak penting dalam kasus apa) reaksi kita juga biasa-biasa saja. Tapi kalau keadaan ini menimpa seseorang yang paling dekat dengan kita, tentu saja keadaan akan sangat berbeda. Perasaan sedih itu betul-betul menyakitkan, terasa didalam hati kita. Apabila kita menyikapi kesedihan ini dengan nrimo, dengan sadar seperti apa adanya, tentu kita tidak akan larut akan kesedihan yang dalam dan waktu yang lama.

 

Kesenangan yang ingin kita miliki secara terus-menerus, juga berakibat pada pikiran-pikiran yang kurang waras(sedikit ngawur/lupa/tidak sadar). Kita bisa menghalalkan segala cara untuk tetap pada posisi menyenangngkan ini, bahkan beberapa orang bisa sangat kejam untuk tetap pada posisi kenikmatan tertentu atau untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan tertentu. Dan ini sungguh sangat disayangkan, karena kejadian ini kerap terjadi di sekitar kita dan bahkan sempat hinggap juga di benak kita suatu waktu.

Kesedihan yang menimpa pada kita, terkadang memang sangat menyakitkan, kita dibawanya menderita untuk beberapa waktu bahkan. Secara seketika kadang kita panik sebelum bisa menerima apa adanya, sehingga bisa membuat pikiran kita kurang waras pada beberapa saat. Keadaan kurang waras beberapa saat ini terkadang punya efek yang sangat mencengangkan. Sampai-sampai ada yang mencoba bunuh diri, ataupun melanggar peraturan-peratura yang ada. Paling ringan kita lari ke suatu tempat yang menyenangkan, seperti kafe, bar atau suatu tempat semacam ini. Tapi tetap saja kesedihan itu akan muncul saat kita pulang. Karena kesedihan memang masih disitu dan kita belum benar-benar mengusirnya. Saat kita menyadarinya, menerima apa adanya, secara pelan dan dewasa, kita coba melihat bahwa semua masalah ini muncul sebagai akibat dari kesenangan yang sudah kita lalui ataupun sebab untuk kesenangan yang lainnya nanti, maka kita bisa menjaga emosi kita pada suatu titik yang cukup bagus.

 

Semoga kita bisa bener- bener menerima keadaan seperti apa adanya, baik itu senang maupun sedih. Dan mungkin dengan memaksakan diri, saya berharap semoga teman-teman bisa melihat kesenangan lebih sering ketimbang kesedihan. Dan semoga yang sedang sedih bisa mulai tersenyum cukup lebar bukan hanya satu “simpul” saja, he…he…he…

 

 

 

mbah uplik

12/05-06, 01:40

http://sadarsaja.blogspot.com