De Mo: Selamat pagi Nduk
Karsi: Selamat pagi Pak De, terlalu pagi tepatnya. Kok tumben sepagi ini pak De?
De Mo: He he he……. Hari sabtu, sedang malas sendirian di rumah. Siapa tahu ada inspirasi di warungnya nduk Karsi.
Karsi: Aneh! Mencari inspirasi kok di Warung.
De Mo: Loh… warung kan tempat nongkrong yang selalu up-to-date, to? Untuk urusan seputar gosip? Sejak jaman dahulu kala kan begitu. Makanya ada istilah ‘Mbok Bakul Sinambi Wara’. Kalau diterjemahkan secara bebas, artinya itu: ‘Para pedagang selalu membawa berita, dari satu daerah ke daerah yang lain’. Sebelum dikenal surat kabar, semua berita ya dibawa para pedagang.
Karsi: Berarti, saya ini di cap sebagai tukang gosip?
De Mo: Bukan, Karsi adalah seorang pendengar yang baik. Dan saya ingin mendengarkan telinga nduk Karsi.
Karsi: Sekarang saya jadi informan? pak De ini ada-ada saja. Memang pak De, terkadang capek juga mendengarkan ocehan orang-orang di warung, apalagi yang suka mengeluh.
De Mo: Apalagi saat ini. Hampir semua orang terlalu sering mengheluh dan emosi. Orang semakin sensitif dan mudah tersinggung. Karena kebingungan, orang menyebutnya ‘Fenomena Baru’. Pilihan kepala daerah di sana kok, bisa menggerakkan pikiran orang di mana-mana.
Karsi: Ha-ha-ha……… termasuk pak De, ikut berpikir.
De Mo: Memang, saya ikut berpikir. Tapi saya tetap membatasi sebagai pengamat saja Nduk. Tidak ikut melibatkan diri dengan memihak ini atau itu.
Karsi: Kalau kasusnya di sini, pak De harus memihak.
De Mo: Ya… aturanya memang demikian, kita harus memilih. Kadang lucu juga, semua orang harus memilih. Harus memihak kepada salah satu calon. Seolah kita diseret dari tempat tidur kita ke dalam pusaran persaingan orang-orang gila yang ingin berkuasa.
Karsi: Jangan berpikiran Skeptis seperti itu pak De. Bukankah cara bermasyarakat yang demikian itu yang kita kehendaki bersama?
De Mo: Tata-Sosial ‘Mbelgedes’. Harus mengikuti keinginan orang banyak. Ini adalah ‘Kemerdekaan’ bagi mereka yang punya banyak keinginan. Sekaligus beban bagi orang seperti saya.
Karsi: De-Mo tidak punya banyak keinginan?
De Mo: Saat ini satu saja, Kopi pahit Nduk.
Karsi: Tidak sarapan?
De Mo: Nanti saja.
Legowo: Selamat pagi Yu. Weh pak de Karmo sudah disini. Pasti sedang berdebat seru ini.
Karsi: Kenapa bisa begitu?
Legowo: Setiap DE MO ketemu sama KARSI,…. Kan memang harus berdebat?
De Mo: Kami berdebat, karena kita sama-sama tidak punya kepentingan. Pada saat kita sama-sama punya kepentingan bersama, maka yang kita lakukan hanyalah musyawara. ‘Rembugan’, mencari solusi. Bukan berdebat dan saling menyerang.
Legowo: Kenapa bisa segampang itu?
Karsi: Karena kami sadar, kami saling membutuhkan.
De Mo: Saling mengisi kekurangan masing-masing. Karena kita melihat segala sesuatu dari sudut yang berbeda. Di situ, pengamatanpun akan menjadi berbeda. Karena melihat dari banyak sudut pandang, maka akan memperkecil kesalahan-kesalahan yang luput dari pandangan.
Karsi: Kamu sekalian Kopi apa tidak? Biar saya sekalian bikinkan.
Legowo: Yang agak halus sedikit dong Yu, saya ini pelanggan.
Karsi: Oooo…. Kamu ingin saya memuaskan para pelanggan?… Kamu pikir saya ini siapa? ‘Germo’?
De Mo: Ha ha ha……. Kapok kowe Wo.
Legowo: Untung saja dia tidak punya pesaing di sini.
De Mo: Memang ada, orang sini yang mampu menyaingi Karsi?
Legowo: Iya juga ya… Sekolah tinggi, Kecerdasan di atas rata-rata, Pengalaman luas, Ketrampilan serba bisa, sebenarnya dia bisa jadi apa saja ya pak De?
De Mo: Benar, tapi dia memilih ‘Masak’ melayani kita. Dan kamu masih menuntut pelayanan yang lebih.
Legowo: Ah… aku jadi malu de Karmo.
Karsi: Lagi ngomongin orang?
Legowo: Tepatnya ngomongin kamu.
Karsi: Kenapa? Tidak puas?
Legowo: Saya hanya penasaran, wanita sehebat kamu, hanya memilih melayani kami. Bukanya melayani orang banyak di atas sana. Bukankah kemampuanmu lebih berguna untuk banyak orang Yu?
Karsi: Hah… melayani orang-orang gila yang memiliki keinginan terlalu banyak seperti kata de Mo? Saya memilih melayani dirimu Legowo.
Legowo: Kenapa begitu?
Karsi: Karena saat kita punya pandangan yang berbeda, lebih mudah mengetahui siapa diantara kita yang sedang gila!
Legowo: Kalau di sana?
Karsi: Kalau kamu sendirian di sana, sudah pasti kamu yang gila. Karena yang banyak selalu waras.
Legowo: Apa selalu begitu?
De Mo: Ya! Itu namanya ‘Suara Mayoritas’.
Legowo: Apakah Mayoritas harus selalu menang?
Karsi: Aturan mainnya memang begitu!
Legowo: Aturan siapa?
De Mo: Mereka
Legowo: Mereka siapa?
Karsi: Mereka yang di sana?
Legowo: Sebentar-sebentar, kok malah jadinya saya yang dikeroyok. Mereka yang di sana itu siapa?
De Mo: Ya mereka yang bermain, bukankah aturan main itu untuk mereka yang sedang bermain?
Legowo: Dan kalian bukan pemain?
De Mo: Kami diseret menjadi peserta permainan. Ingin menonton saja tidak boleh, harus ikut main. Dan mereka menyebut kita partisipan.
Legowo: Terus, bagaimana dengan kebenaran?
Karsi: Bermain sesuai aturan main itu adalah kebenaran!
Legowo: Masalah hati nurani?
De Mo: Itu ideal-nya. Dan ide-ide yang ideal semacam itu perlunya dicatat dan dibaca. Kenikmatannya ya pas waktu dibacakan saja.
Legowo: Tidak dijalankan?
Karsi: Ya dijalankan pelan-pelan.
De Mo: Sekenanya! Karena susah.
Legowo: Kenapa kalian berdua malah kompak? Melawan saya? Apa saya ini dianggap mangsa empuk untuk kalian berdua?
Karsi: Karena kamu suka kalau kami berdua berdebat sampai bersungut-sungut.
Legowo: Oooo… balas dendam? Sekali-kali, kalian memangsa aku? Ok, saya terima itu. Tapi mumpung kalian ada disini, tolonglah saya yang goblok ini agar sedikit tercerahkan. Saya sangat sulit memahami perkembangan berita saat ini.
Karsi: Tentang apa?
Legowo: Kata teman saya yang di kota, kita semua ini sedang terpecah belah. Kata dia, kita sedang di-adu dengan saudara-saudara kita. Apakah yang memecah belah itu adalah ‘Mereka’ yang kalian sebut sebagai pemain ‘Di Sana’? Terus apa yang harus saya lakukan agar tidak terpecah dengan keluarga dan saudara-saudara saya?
De Mo: Kenali caranya dulu, baru kamu bisa antisipasi.
Karsi: Harus tahu ciri-cirinya! Kira-kira seperti apa caranya menyerang?
De Mo: Cara yang paling mudah dan umum adalah dengan memisahkan kita. Kalau kita punya perbedaan, maka mereka mulai mempertajam perbedaan itu, melebarkan jarak itu. Selebar-lebarnya. Saat kita merasa berbeda dengan saudara kita, maka saat itulah kita sudah mulai terpisah. selanjutnya mereka tinggal memberikan bumbu tentang kehebatan kelompok kita dan kejahatan kelompok yang lain.
Karsi: Kalau sudah di tahapan ini?
De Mo: Gampang! Apa saja yang diinginkan kelompok lain, adalah apa saja yang kita benci. Di sinilah kebenaran sudah berlari menuju relatif, dan akhirnya perspektif.
Karsi: Kebenaran bisa menjadi salah dan salah bisa berubah menjadi kebenaran. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.
Legowo: Apakah itu semua tidak bisa dihindari, pada tahapan ini?
De Mo: Sulit, karena perasaan kita sudah mati! Memahami dan Mengerti kepentingan golongan lain akan sulit muncul saat perasaan kita sudah dibutakan dengan kebencian.
Legowo: Bukankah kebenaran akan tetap menjadi kebenaran, pada posisi apapun?
De Mo: Itu hanya ada di buku. Sekarang saya tanya. Apa bedanya orang yang berhemat dengan orang yang pelit? Apakah ada bedanya pula antara orang yang murah hati dengan orang yang boros? Dan ‘Membangun’ terkadang juga harus Merusak! Kamu akan berdiri di mana?
Legowo: Sungguh mudah membedakan salah dan benar seperti yang ada di dalam buku. Tapi kalau situasinya seperti ini, kepalaku bisa meledak.
Karsi: Bagi pemilik uang, tidak menyumbang adalah penghematan. Namun bagi penderita, kita langsung di cap pelit. Orang yang suka memberi, akan disebut murah hati bagi penerimanya. Namun bagi istri-istri mereka, jelas tindakan pemborosan dan menghambur-hamburkan uang. menarik sekali. Tergantung apa kepentinganmu dan berdiri di sisi mana dirimu, maka apa yang kamu lihat pada kejadian yang sama, akan menimbulkan penilaian yang berbeda.
Legowo: Terus, apa yang harus kami lakukan agar terbebas dari cengkeraman orang-orang gila ini?
De Mo: Biarkan saja mereka bermain. Kalau kita harus memilih pasangan calon, pilih saja yang kalian paling suka. Jangan pernah ikut membenci, memihak, dan melakukan penilaian yang berlebihan. Toh mereka semua juga berjanji akan membangun. Itu kan sudah cukup membuat kalian lega. Seandainya mereka mencoba untuk mengelak dan macam-macam saat mereka menjabat nantinya, mereka kan punya aturan lain lagi yang mengawasinya.
Karsi: Ya,… kita tetap bersahabat, tidak perlu bertengkar karena kepentingan mereka, yang katanya untuk kepentingan kita. Kalau kami berdua berdebat, itu kan karena kita lagi tidak ada kerjaan. Sekedar iseng belaka. Nah kalau mereka beda, perdebatan itu menjadi penting karena menentukan kalah dan menang.
Legowo: Sokur… mudah-mudahan apapun yang terjadi, Yu Karsi tetap cinta padaku.
Karsi: Cinta ndasmu?
Legowo: Maksudku, tetap baik padaku.
Karsi: Asal kamu belanjanya banyak-banyak
De Mo: Aku malah jadi lapar ini. Minta sarapan nduk, sayur bening dan mangut lele ya.
Legowo: Saya juga Yu