Cucuku, Saat ini harusnya kalian sudah mulai belajar dan melatih diri mengembangkan cinta kasih. Karena cinta kasih itu adalah satu-satunya obat untuk melawan salah satu akar kejahatan, yaitu kebencian. Dengan ‘cinta kasih’ kalian akan mampu meluluh lantakkan ‘kebencian’ dan kedengkian’ yang bersembunyi di dalam diri kalian masing-masing.

Kakek tahu, tidaklah mudah melatih cinta kasih itu dalam kehidupan sehari-hari. Begitu banyak rintangan yang harus kalian lewati. Misalnya saja wujud dari cinta kasih yang paling sederhana dan nyata, seperti berdana. Semua orang tahu, berdana itu baik. Namun demikian sulit sekali dilakukan oleh kebanyakan orang. Karena dana yang kita berikan kepada orang lain, secara langsung akan mengurangi kekayaan kita. Dan kalian semua pasti tahu, bukankah sulit untuk mengumpulkan kekayaan itu?

Kemudian orang-orang bijaksana memberikan dorongan kepada semua orang untuk berdana dengan berbagai macam cerita tentang kebaikan berdana. Belakangan cerita itu berkembang lebih material. Katanya, dengan rajin berdana, orang akan bisa cepat kaya.  Dari cerita tersebut, orang mulai giat berdana. Karena mereka yang berdana, punya harapan keberuntungan yang berlimpah dimasa yang akan datang. Memang cucuku, itu tidaklah keliru. Berdana adalah baik, apapun landasannya.

Menurut kakek, hendaknya kalian semua kembali pada pandangan awal bahwa landasan berdana adalah ‘belas kasihan’. Ketika kalian memberikan sesuatu kepada orang lain, janganlah berharap keberuntungan akan mengalir di kemudian hari. Karena pandangan itu bisa keliru, kalian bisa salah memberi. Bisa salah sasaran, atau salah obyek pemberian. Karena dengan cara-cara tersebut, pada saat kalian memberikan dana, tujuan pemberian dana itu adalah dirimu sendiri, untuk dirimu sendiri. Apabila kalian memberi dengan harapan keberuntungan, bukankah kalian memberi untuk kepentingan kalian sendiri?

Berbeda saat landasan itu adalah belas kasihan dan cinta kasih. Bagaimana belas kasihan itu bisa muncul? Karena pertama-tama kalian melihat kejadian yang menggugah perasaan belas kasihan. Misalnya saja, ada orang yang hidupnya serba kekurangan. Tempat ibadah kalian yang sedang rusak. Jalan di kampung kalian yang berlubang dan lain sebagainya. Nah dari pengelihatan kalian itulah munculah rasa  belas kasihan. Apabila orang tadi kekurangan beras, berilah orang itu beras. Jangan diberikan orang tersebut pakaian. Tapi orang bisa juga memberinya pakaian, mungkin karena orang tersebut punya pakaian yang sudah tidak terpakai. Memang itu perbuatan yang baik, tapi pemberian tersebut tidak mampu mengurangi beban orang yang sedang menderita tadi. Kalau tempat ibadahnya itu bocor, belikan genteng.

Demikianlah seterusnya, maka dana kalian itu akan benar-benar bermanfaat dan bisa menyelesaikan masalah. Ada lagi orang kaya yang berdana demi nama baik, biasanya orang ini asal saja memberikan bantuan. Tidak peduli bantuannya tadi tepat sasaran atau tidak, berceceran di jalan atau tidak. Yang penting diumumkan di depan orang banyak,… he he he…

Dan banyak lagi rintangan untuk mewujudkan cinta kasih ini cucuku. Yang menggelikan lagi adalah, cinta ini sering bertabrakan dengan kegiatan kita sehari-hari. Seperti situasi sekarang ini. Di mana-mana kita menjumpai adanya sebuah persaingan. Nah menurut kakek, persaingan-persaingan itu sejatinya menabrak ‘Cinta Kasih’. Bagaimana kakek bisa punya asumsi yang demikian? Baiklah, mari kita sama-sama menelitinya.

Persaingan itu dilakukan oleh banyak orang setiap hari sepanjang harinya. Ada beberapa orang yang sudah memposisikan dirinya seolah-olah mereka itu hidup di dalam perlombaan besar setiap harinya. Mulai bangun pagi, ibu-ibu sudah ribut tawar menawar harga sayur di pasar. Sopir angkot saling serobot, dan saling mendahului bak balapan di jalan raya. Seorang pedagang nasi dengan pedagang nasi yang lain di pasar yang sama, saat bertemu seolah sedang melihat musuhnya di medan pertempuran. Para pengusaha, dengan seribu macam cara mereka saling sikut, saling menekan.

Cucuku, dari semua kejadian itu, kalian semua tentu bisa merasakan. Orang-orang yang punya perasaan demikian, yang memposisikan dirinya dalam perlombaan, apakah ada perasaan cinta kasih disana? Pada waktu yang bersamaan?

Saat sebuah persaingan dimulai, cinta dan kasih sudah pasti tidak ada di sana. Yang ada hanyalah perasaan ingin menang dan ingin mengalahkan. Apabila kemenangan tidak bisa diraihnya, maka yang tersisa adalah perasaan jengkel yang mendalam. Belum lama ini ada pertandingan sepak bola, dimana para pendukung kedua belah pihak saling berkelahi, sampai ada yang tewas. Ini bukan sekedar permainan perasaan saja cucuku, ini adalah kejadian nyata, antara pendukung sepak bola di kedua kota. Masihkah kalian menyangkalnya, bahwa semua persaingan itu meniadakan cinta kasih?

Cucuku, kalau kalian sudah dewasa sekarang ini, atau menganggap diri kalian sudah mulai dewasa, mulailah belajar dan melatih ketelitian. Saat kalian sudah merasa cukup bersaing dan memperoleh penghidupan yang layak, mulailah berbenah diri. Dengan melihat apa yang kalian lakukan selama ini. Mulailah menilai dan melihat dengan hati-hati seluruh sepak terjang kalian. Saat kalian melakukan persaingan demi persaingan dalam memperoleh keuntungan untuk memenuhi penghidupan yang layak dan sudah tercapai. Marilah pelan-pelan kita lihat, apakah semua itu benar-benar bernilai untuk perkembangan batin kalian?

Apabila keserakahan untuk menumpuk kekayaan ini sudah bergabung dengan kebencian dalam suasana persaingan, maka akan sangat sulit untuk menjaga dan mengendalikannya. Yang selalu muncul di benak kalian semua hanyalah untung dan rugi. Celakanya cucuku, saat perilaku mental ini dibiarkan dan bahkan dikembangkan, dia menjadi kebiasaan yang dianggap sebagai kebenaran.

Seluruh pola penilaian yang kalian buat untuk kalian jalankan nantinya hanyalah berlandaskan untung dan rugi. Untuk berteman dengan seseorang, kalian akan memikirkan, “Apa untungnya berteman dengan si Dadap?”. Apabila kalian punya teman yang akrab ingin bertemu-pun kalian akan memikirkan untung dan ruginya.

Cucuku, Cinta kasih itu penuh dengan kelembutan dan kehangatan. Efeknya memberikan kesejukan dan kenyamanan bagi siapa saja yang ada di sekitar kita. Sedangkan persaingan itu selalu panas, penuh dengan kemarahan. Keinginan untuk menanglah yang selalu diutamakan. Dan selalu menuntut kekalahan di pihak yang berseberangan. Siapa saja yang bukan golongannya, yang bukan dipihaknya adalah para musuh yang harus dikalahkan. Itulah persaingan, cucuku.

Di dalam cinta dan kasih, tidak ada mereka yang duduk berseberangan, tetapi penyatuan. Mengajak semuanya pada level dan jenjang yang sama. Berbagi suka maupun duka. Sedangkan persaingan selalu ada batas, selalu ada kelas, selalu ada yang menang dan kalah. Persaingan selalu memecah belah.

Kakek tidak bermaksud melarang kalian bersaing dalam menjalani hidup ini. Harapan kakek setelah kita bersama-sama meneliti masalah ini,  akan muncul sudut pandang baru bagi kalian semua. Sehingga kalian bisa mulai menimbang-nimbangnya sepenting apa kira-kira persaingan yang sedang kalian jalani itu.

Paling tidak, nanti pada saat kalian masih melakukan persaingan demi persaingan dalam kehidupan kalian, kalian sudah memiliki sedikit rasa iba. Agar apa yang kalian lakukan dalam bersaing nantinya tidak menutup mata. Dalam bersaing nanti, kalian tidak lagi mata gelap. Sehingga kalian semua tidak menjadi orang yang sewenang-wenang. Orang yang sewenang-wenang seperti itu, sudah tidak peduli lagi pada harkat, martabat, maupun kepentingan-kepentingan orang lain selain dirinya sendiri sebagai pusat kepentingan.

Orang-orang yang demikian ini, apakah masih punya cinta dan kasih pada waktu yang sama?

Cucuku, berhati-hatilah, latihlah kesabaran dan kecermatan dalam menilai semua kejadian demi kejadian. Sehingga kalian semua bisa menjalani hidup ini dengan tenteram dan damai.