Matahari masih membakar padang rumput dengan teriknya, sesekali diselingi awan tipis yang berjalan satu-satu menambah panasnya hari. Kambing-kambing masih saja mengendus rumput hijau dibawah tanaman perdu yang jarang-jarang. Sesekali Parto bergumam disela-sela napasnya yang panjang setelah menyelesaikan makan siangnya sambil sesekali melirik Krama yang masih menyuapi mulutnya dengan tenang.
“Kamu itu kenapa To, kok ‘unjal ambegan’ dari tadi seolah-olah sedang memikirkan bumi yang mau runtuh?” Tanya Krama setelah menelan nasinya yang terkhir.
“Ah… tidak, hanya sedang mengenang ‘sesorahnya’ pak Camat tadi malam lo Kang”. Jawab Parto enggan.
“Memangnya kenapa dengan ‘sesorah’ pak Camat?” desak Krama.
“Semalam, pak Camat berkali-kali menekankan kepada warga sini untuk ‘memerangi kemiskinan’”.
“Terus, apa ada yang salah?”
“Ya…. kalau itu saya tidak tahu, cuma kok rasa-rasanya kurang pas dipikiranku Kang. Coba bayangkan, masalah kaya dan miskin itu kan masalah kita masing-masing! Masak sekarang kok ada peraturan tidak boleh miskin!”
“Bukan begitu maksudnya pak Camat, dia itu menggugah semangat kita agar rajin bekerja, dengan demikian kehidupan kita bisa lebih layak.”
“Nah…. itu juga yang aku tidak mengerti tentang ‘layak’ yang sampean katakan tadi. Bagaimana caranya kita bisa menyatakan kalau saya itu sudah layak atau belum, Kang Parmin yang bakul dawet itu sudah layak atau belum, lek Diran sudah layak apa belum, dan yang lain-lainnya. Terus siapa yang bisa menyatakan seseorang itu sudah layak atau belum. Menurut saya, layak atau tidak layak, yang bisa menilai itu kan diri kita masing-masing Kang. Pak Carik tentu tidak layak kalau makan nasi campur ‘gobet’ dengan lauk sambel trasi saja. Tapi kalau saya sudah selayaknya makan seperti itu. Nah coba pikirkan, kalau pak Carik yang menentukan layak, bukanya akan berbeda dengan pak Camat?”
“Mereka pasti punya cara untuk mengukur kelayakan penduduknya To.”
“Mereka siapa? Orang-orang kota itu? Wah… malah tambah kacau kalau yang menilai kelayakan itu mereka, bisa-bisa kita dipaksa meniru mereka. Kata Kang Pardi yang pernah ke kota, mereka itu serba repot. La wong cuma mau beli sabun mandi saja mereka mikir, anak dan simboknya bisa berbeda-beda sabun mandinya. Kalau aku ndak bakalan mau seperti mereka, katanya di kota sana banyak orang yang sulit tidur. Ha ha ha…. Tidur kok sulit! Kalau memanjat kelapa ada orang yang kesulitan, saya masih percaya. Tapi kalau tidur? Apa susahnya? Ada-ada saja orang-orang kota itu.”
“Lo…. Kamu kok ngelantur kemana-mana, mereka itu memikirkan kesejahteraan kita. Kalau kita semua sudah sejahtera, nanti negara ini akan tentram.”
“Ah… ya malah ndak nyambung itu namanya Kang, yang membuat tentram atau tidak tentram itu orangnya, bukan kesejahteraanya. Buktinya di kampung kita, mana pernah ada keributan, walaupun pak Camat selalu saja mengatakan kalau kita itu termasuk masyarakat miskin! Hayo keributan apa yang pernah terjadi disini? Paling banter masalah warisan seperti keluarganya mbah Joyo. Itupun karena cucunya yang dari kota, yang meributkan masalah pembagian. Orang dia tidak pernah merawat kakeknya kok minta bagian yang sama.”
“Dasar wong Bodho! Dikasih tahu kok malah ‘ngeyel’ kamu itu To… To…”
“Orang miskin kok tidak boleh,…. Aturan apa itu? Aturan ‘mbelgedes’ namanya. Mau miskin mau kaya kan suka-suka kita, kok ndak boleh.”
“Yo wes….. kowe mau miskin, miskin sak karepmu dhewe!”
“Kalau aku miskin terus merepotkan kang Krama, baru boleh sampean melarang saya miskin, ya to Kang?”
“Ha ha ha….. iyo!”
“Lah…. Kalau saya miskin tapi tidak merepotkan sampeyan, harusnya sampean tidak perlu melarang saya miskin! Kecuali sampean kuatir nanti saya akan merepotkan sampean!”
“Ah embuh To,… malah melu mumet aku.”
“Bukanya saya tidak setuju dengan perintah pak Camat Kang, tapi itu hanya ‘uneg-uneg’ di kepala saya.”
“Nah begitu dari tadi, setuju saja kan tidak remit.”
“Baiklah saya setuju dengan perintahnya pak Camat. Tapi aku mau tanya Kang.”
“Tanya apa lagi, kalo setuju ya tidak usah banyak tanya.”
“Begini lo, seandainya ini Kang, misalnya programnya pak Camat dan pak Kades berhasil, orang-orang pada kaya semua, siapa nanti yang dicemooh Kang?”
“Yo tetep kamu to To!”
“Kok tetep aku? Seandainya aku ini nanti juga kaya?”
“Orang lain kan, akan lebih kaya! Karena mereka lebih rajin dari kamu.”
“Apa aku masih kurang rajin?”
“Jelas! La wong yang kamu pikirkan masalah yang ndak mutu! Masalah yang tidak mendatangkan uang! Coba lihat itu kambingmu sudah sampai di ‘kidul galeng’. Bagaimana kamu bisa lebih kaya dari yang lain kalau pikiranmu kemana-mana.”
“O.. alah tobil! Tak tinggal dulu Kang, kambingku ilang nanti.”
“Ya,… aku juga mau pulang.”