Cucuku, tahukah kalian apa kira-kira yang dicari oleh hampir semua orang di muka bumi ini?

Seolah-olah pertanyaan simbah itu mengada-ada. Karena merujuk semua manusia dimuka bumi. Sehingga jawabannyapun akan semakin kompleks. Ada orang yang bekerja keras sampai jungkir balik. Ada yang bermalas-malasan sambil memupuk angan-angan. Ada yang mengerjakan sesuatu yang sebenarnya dia tidak suka melakukan pekerjaan itu. Dan masih banyak lagi aktivitas dan tingkah manusia ini. Namun demikian, sejauh yang kakek amati, yang mereka cari hanya satu, “Kebahagiaan“!.

Nah, lucunya cucuku….. banyak diantara mereka yang tidak begitu paham dengan kebahagiaan itu sendiri! Coba bayangkan, apakah tidak aneh? Kalau mereka, orang-orang ini bekerja, berjuang, seolah-olah berlomba mengejar sesuatu yang mereka sendiri masih belum paham?

Kakek pernah bertanya kepada beberapa orang tentang apa itu kebahagiaan. Jawaban mereka memang berbeda-beda dan ada juga yang aneh-aneh. Namun dari sekian banyak jawaban-jawaban tersebut, kakek dapat menyimpulkan bahwa ‘kesenangan-kesenangan’ itulah yang menurut mereka adalah kebahagiaan.

Ada yang menjawabnya, “Kalau saya sudah memiliki ini atau itu, saya pasti akan bahagia”.

Yang lain lagi menjawab, “Kalau saya sudah menjadi ini atau itu, saya pasti akan bahagia”.

“Kalau saya nanti sudah bisa berdua dengan si dia, saya pasti akan bahagia”.

Dan seterusnya, masih banyak jawaban yang aneh-aneh lainnya. Kalau kakek kelompokan, hampir semua keinginan orang-orang itu cuma ada dua. Yang pertama, mereka ingin menggenggam dan menikmati segala macam kesenangan. Dan yang kedua, mereka menolak dengan keras, segala macam hal  yang membuat mereka tidak senang.

Dan saat mereka nanti mati-pun mereka tetap menyimpan dua keinginan ini. Kalau sudah mati nanti, mereka ingin masuk surga dan mereka tidak akan mau masuk ke neraka. Mengapa demikian cucuku? Karena mereka pernah mendengar cerita. Cerita yang sama, yang sudah umum dan sering kita dengarkan. Bahwa di surga itu semuanya serba menyenangkan dan penuh dengan kenikmatan. Sebaliknya kalau di neraka itu serba menakutkan dan menyakitkan. Bukankah kalian tetap bisa melihat pola yang sama sekalipun di alam lain? Yaitu mendambakan segala hal yang menyenangkan dan menolak segala yang tidak menyenangkan.

Sekali lagi, kakek mengajak kalian untuk bersama-sama meneliti lingkungan kalian. Penelitian kali ini kita batasi pada hal-hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan.

Cucuku, apabila kalian terus mendambakan kesenangan dan menolak ketidak senangan, maka dapat kakek pastikan kalian akan hidup dalam penderitaan yang bahkan sulit untuk ditolong. Karena sesungguhnya cucuku, kesenangan-kesenangan itu akan selalu berdampingan dengan ketidak-senangan. Seperti sisi mata uang. Yang sebelah adalah menyenangkan dan yang sebaliknya adalah tidak menyenangkan. Kesenangan-kesenangan akan diperoleh setelah melewati ketidak-senangan. Atau sebaliknya, kesenangan-kesenangan itu akan diakhiri dengan ketidak-senangan.

Banyak orang yang meratapi hidupnya, seolah-olah dia adalah orang paling malang di dunia! Sepintas lalu, keadaan demikian bisa dibenarkan. Namun saat kalian mulai teliti, maka keadaan tersebut tidaklah benar-benar demikian. Kalau kalian mengamati dengan lebih teliti, semua orang akan mengalami senang dan sedih ini. Sepanjang hari dan setiap harinya. Sejak kita bangun pagi sampai menjelang tidur kembali, kita telah diombang-ambingkan oleh perasaan senang dan sedih ini. Perasaan itu terus muncul dan lenyap. Untuk lebih jelasnya, coba simak cerita pendek kakek ini.

“……………………………………………………………..

Pada suatu pagi, jam waker berbunyi dengan nyaring sekali. Sambil malas-malasan, seorang ibu meraba-raba meja mencari sumber suara untuk dimatikan. Pelan-pelan dia memaksa matanya agar terbuka lebih lebar lagi. Ada perasaan malas, seolah dia ingin lebih lama lagi berada di tempat tidur. Setengah mengeluh otaknya langsung menyodorkan sederetan pekerjaan. Mulai dengan membuat sarapan, memandikan si kecil, mengantar sekolah anaknya yang besar, memberesi cucian dan masih banyak lagi daftarnya. Yang membuatnya capek sebelum semuanya itu dikerjakan. Saat dia berjalan dengan gontai menuju dapur, disempatkannya melongok ke kamar sebelah. Dia melihat kedua buah hatinya yang lucu dalam tidurnya yang nyaman. Si ibu pun tersenyum penuh dengan rasa syukur. Gambar kedua anaknya yang baru tidur itu seolah sudah menyihir sang ibu, seperti habis minum jamu paling manjur. Kaki dan tangannya mendadak menjadi ringan. Semua pekerjaanpun diselesaikan dengan cepat tanpa mengeluh.

Baru setengah dari menu masakannya selesai, telingannya mendengar tangisan dari kamar anak-anak. Karena gorenganya tidak bisa ditinggal, dia mulai berterak. “Pak!…, ambil si kecil”. Karena suaminya masih belum bangun, sambil menggerutu dia cepat-cepat ke kamar anak-anak mengambil si kecil dan dibawanya ke kamar bapaknya yang masih belum benar-benar terbangun.

Karena jengkel, si ibu mau meletakkan si kecil di dekat muka bapaknya agar sang bapak lekas bangun. Saat si kecil baru disorongkan di atas kepala bapaknya, si kecilpun pipis. Si bapak mengumpat. Si Ibu malah tertawa terbahak-bahak. Akhirnya si bapak juga tertawa terbahak-bahak sambil menciumi si kecil. Mereka bertiga pun bercanda sejenak di kamar.

Setelah tercium bau tak sedap dari dapur, si ibu melompat berlari ke dapur. Satu sesi gorengan tahunya berwarna hitam. Akhirnya, menu pagi itu diganti dengan telur goreng orak-arik dan kerupuk sisa semalam. Ketika sang ibu menyiapkan perlengkapan sekolah untuk si besar, matanya tak berkedip melihat lubang menganga di belakang tas punggung anaknya. Sambil berbisik di telinga suaminya, dia mengeluh. “Kapan kita bisa membelikan tas baru untuk si Dodi?”. Sambil menunduk, si bapak menjawab. “Mudah-mudahan bulan depan kita punya uang lebih bune, sekarang ditambal saja dulu”.

Sambil menggeleng sang ibu berkata lirih, “Bukankah bulan depan kita harus menengok kakek?” Sambil memegang kedua tangan istrinya, si bapak berkata, “Coba nanti bapak pikirkan”. Setengah terperanjat, keduanya melihat si Dodi yang sedang mengemasi buku dan peralatan sekolahnya ke dalam kantong kresek. Pelan-pelan  dimasukkannya plastic kresek yang berisi buku itu ke dalam tas yang lubang tadi. “Pak, boleh minta ‘lakban’ kardusnya? Kalau saya plaster dari dalam pasti tidak kelihatan lobangnya”. Sambil terharu, si bapak berdiri mengambil ‘lakban’ kardus, tanpa sepatah kata.

………………………………………………………………………..”

Nah, cucuku…. Dari cerita yang hanya sepotong pagi saja, kalian bisa menghitung berapa kali si ibu mengalami perasaan senang dan tidak senang.

Kalau diantara kalian ada yang merasakan bahwa hidup kalian sungguh tidak menyenangkan, cobalah teliti sekali lagi. Dua hal, senang dan tidak senang itu selalu berdampingan. Untuk mendapatkan uang gajian, seseorang harus bekerja sebulan penuh, mematuhi segala perintah atasannya. Setelah bekerja keras seminggu, para buruh mendapatkan upah di hari Sabtu. Para petani harus bekerja keras dan menjemur punggungnya di terik matahari selama tiga bulan! Sebelum memanen padi. Si Karjo harus kerja keras membayar cicilan motornya, setelah bisa bergaya dengan motor barunya. Para ibu bangga atas prestasi anak-anaknya dan menangis saat mereka susah diatur. Para bapak selalu merasa khawatir dengan anak perempuannya dan suka membanggakan para menantunya.

Saat kalian sudah bisa melihat senang dan tidak senang, kalian harus mulai belajar. Apa yang menjadi penyebab kesenangan dan apa yang menjadi penyebab ketidak-senangan ini. Coba renungkan pelan-pelan. Bukankah keduanya saling berhubungan? Bukankah keduanya bisa menjadi sebab sekaligus akibatnya?

Apabila kalian sudah bisa melihat kedua hal tersebut adalah saling bergantungan, senang dan tidak senang ini selain menjadi sebab juga menjadi akibat, maka kalian sudah bisa melihat salah satu bagian dari hidup ini, seperti apa adanya.

Jadi sekali lagi, kalau ada orang yang berangan-angan agar bisa selalu hidup menyenangkan dan tidak mau kehidupan yang tidak menyenangkan, maka kalian bisa menyebut orang-orang yang demikian adalah orang-orang yang sedang bingung. Karena keinginan orang-orang itu tidak akan pernah terjadi.

Cucuku, pandangan yang cukup sederhana ini akan bisa membawa kalian menjadi lebih bijaksana. Kalian tidak lagi banyak mengeluh. Karena senang dan tidak senang ini bukanlah hal yang luar biasa. Senang dan tidak senang hanyalah perasaan yang biasa saja. Yang selalu muncul, secara terus menerus. Dan saat kalian bisa melihat senang itu muncul berkali-kali dalam sehari, maka kalian bisa menikmatinya sebagai sebuah kebahagiaan. Karena pada saat yang sama pula, gambaran hidup menderita yang sering mengganggu pikiran kebanyakan orang, tidaklah benar demikian. Bukankah kesenangan juga muncul mendampinginya?

Cucuku, dari uraian kakek tadi kalian juga akan memiliki pandangan baru yang lebih bijaksana. Dimana kalian akan berhati-hati dalam membelanjakan uang hasil kerja keras kalian. Pada saat kalian bekerjapun, kalian tidak akan punya perasaan malas. Karena di ujung pekerjaan keras kalian, kalian juga pasti akan menikmati hasilnya. Demikian pula, pada saat kalian dirundung kesedihan. Kalian tidak akan larut dalam kesedihan tersebut dalam waktu yang lama. Sebaliknya ketika kalian sedang menikmati kesenangan-kesenangan, kalian tidak akan lepas kendali.

Cucuku,… apabila kalian serius dalam pengamatan kalian, dalam waktu tertentu. Pada tahapan berikutnya nanti, kakek akan menunjukan kepada kalian bahwa ada begitu banyak  kelemahan dari kebahagiaan yang seperti ini. Kesenangan-kesenangan ini akan terus bergerak mengikuti pikiran kalian masing-masing. Pikiran-pikiran tersebut juga akan terus berkembang tidak ada habisnya. Kesenangan-kesenangan ini akan terus berkembang pula. Kepuasan-kepuasan pun hanya sesaat saja kalian nikmati. Saat kesenangan yang satu sudah kalian peroleh, dan kalian bisa hidup dalam kesenangan itu, lambat laun kalian akan menjadi biasa-biasa saja dengan kesenangan-kesenangan itu. Kemudian munculah kesenangan-kesenangan lain yang baru lagi. Demikianlah, kalian akan terus haus akan kesenangan-kesenangan ini, sepanjang waktu.

Dan pada saat kalian mengejar dan menginginkan bentuk-bentuk keinginan yang baru ini. Sebelum kalian memperolehnya, kalian akan merasakan diri kalian kurang beruntung. Apabila kalian tidak bisa memperoleh kesenangan yang baru itu dalam waktu yang relatif lama, maka perasaan jengkelpun akan menyelimuti diri kalian. Dan kalian menjadi orang yang cepat marah.

Cucuku,… mereka yang sudah benar-benar melihat senang dan sedih hanya seperti itu belaka hakekatnya, mereka akan mengatakan bahwa itu bukanlah kebahagiaan.

Maukah kalian berpetualang bersama kakek mencari kebahagiaan yang lain lagi?