Cucuku, mungkin kalian semua tidak asing dengan ‘curhat’. Siapa saja pernah melakukannya, bahkan ada yang sering melakukan curhat. Banyak orang karena kesedihan yang dialaminya, selalu ingin menceritakan pengalaman buruk yang dialaminya tersebut kepada teman terdekatnya atau pada kerabatnya. Bagi kebanyakan orang, akan merasa puas dan seolah-olah sudah melepaskan beban setelah mencurahkan perasaan pedihnya kepada orang lain.

Cucuku, kalau kalian sudah mulai mendalami tuntunan kakek, perbuatan demikian seharusnya tidak kalian lakukan. Mengapa kakek menyebut perbuatan seperti ini tidak baik?

Memang perbuatan ini bukanlah jenis pelanggaran moral dan perilaku. Perbuatan ini secara umum bahkan dianggap baik. Karena dengan mengungkapkan perasaan kalian yang pilu itu, bisa mengurangi beban penderitaan kalian. Namun, menurut kakek, ada dampak-dampak lain yang perlu kalian pahami. Terutama adalah dampak buruknya. Saat kalian mencurahkan perasaan yang tidak menyenangkan tersebut kepada teman atau orang lain. Pada saat itu pula, kalian mengotori pikiran teman kalian. Sedangkan, pikiran kalian tetap akan keruh.

Seolah-olah kalian membuang sampah ke rumah tetanggamu. Akan tetapi, sampah itu tidak benar-benar pindah ke rumah tetanggamu. Melainkan ‘menduplikasinya‘! Sampah yang asli, masih tetap ada di rumahmu sendiri. Sampai kamu benar-benar membersihkannya sendiri. Kemudian sampah yang kamu bawa ke tetanggamu itu, benar-benar ada dan membuat kotor rumahnya. Coba kita renungkan bersama masalah ini dengan suatu contoh.

“…………………………………………………..

Misalkan kalian sedang bertengkar dengan istri atau suamimu. Karena perselisihan demi perselisihan itu belum selesai, tentu saja tumpukan kejengkelan itu masih ada. Setiap satu kejengkelan disebabkan oleh satu keburukan pasanganmu. Karena kejengkelanmu itu bertumpuk, sudah pasti bayangan keburukan pasanganmupun bertumpuk-tumpuk. Semakin kalian pikirkan keburukan demi keburukan pasanganmu, kejengkelan akan semakin menumpuk seolah mau keluar saja dari kepalamu. Semakin kamu pikirkan kejengkelanmu, maka semakin berlipat-lipat keburukan pasanganmu. Sampai pada titik ‘tidak ada baik-baiknya’!.

Karena rasa jengkel ini terus kalian turuti dengan memikirkannya, maka yang ada hanyalah kebencian dan dendam. Tidak ada upaya mencari penyebabnya untuk menyelesaikan perselisihan kalian. Karena perasaanmu sudah tidak kuat lagi menyimpannya. Kalianpun berniat untuk membaginya, dengan harapan, himpitan sakit itu akan berkurang. Maka kalian mencari teman akrabmu.

Pada waktu yang sama, teman akrabmu itu sedang berada di ruang tamu di rumahnya sendiri. Mereka sedang asik memilih nama untuk anaknya yang pertama akan lahir. Ternyata bapak dan ibu merekapun menginap di sana, karena waktu melahirkan sudah dekat. Suasana riang, menyenangkan dan penuh dengan tawapun jelas sekali terlihat dari ekspresi setiap wajah yang ada di ruangan itu. Sebentar lagi ada yang menjadi bapak, ada yang akan menjadi ibu, ada yang akan menjadi kakek, dan ada yang akan menjadi nenek. Merekapun saling berkelakar dan bercanda dengan hangat. Pendek cerita, kalau di-‘potret’, keluarga ini pasti memenangkan pemilihan keluarga bahagia.

Selang beberapa saat kemudian, kamu datang ke keluarga bahagia itu. Karena kepedihan yang kamu tahan itu muncul di ekspresi wajahmu, merekapun seolah tahu kalau kamu sedang bermasalah. Karena dia adalah teman akrabmu, maka dia tidak ingin menyinggung perasaanmu.

Dia berusaha menyesuaikan diri dengan mencoba menyesuaikan perasaannya. Dengan pelan, dia mulai bertanya tentang kabarmu dan mulai menanyakan beberapa hal sampai pada masalah yang membuatmu bersedih. Diapun mencoba untuk mendengarkan seluruh persoalan yang kalian alami.

……………………………………………”

Dari kejadian sekilas tersebut, beberapa hal sudah kalian lakukan, yang sangat merugikan teman akrabmu. Pertama-tama, kedatanganmu telah memotong kebahagiaan yang terjadi di keluarga temanmu.

Apabila ceritamu tadi benar-benar menyentuh perasaan temanmu, maka kamu sudah merubah suasana menyenangkan di rumah temanmu itu menjadi suasana yang sedih dan muram.

Lalu munculah perasaan iba, seolah keceriaan yang tadi berlangsung disana, dirumah sahabatmu, yang memenangkan kontes keluarga bahagia, drastis berganti menjadi rumah duka.

Seandainya saja temanmu tadi terhanyut dan termakan oleh ceritamu yang pilu, dengan membeberkan seluruh keburukan pasanganmu, maka apa yang akan terjadi? Kamu sudah berhasil menyeret temanmu ke tingkat yang lebih buruk lagi! Sekarang, perasaan temanmu sudah dipenuhi perasaan benci dan dendam kepada pasanganmu.

Demikianlah cucuku, mencurahkan hati dan perasaanmu yang menyedihkan, bisa berdampak tidak baik bagi mereka yang menerima curahan hatimu. Kalau terpaksa sekali perasaan kalian memaksa kalian untuk ‘curhat’, carilah orang yang tepat. Carilah teman yang punya ketenangan dan memiliki perasaan stabil. Carilah orang yang bijaksana.

Jangan menceritakan kesedihanmu kepada orang yang sedang bermasalah, ini malah lebih parah lagi cucuku! Cerita kalian itu akan memicu kemarahannya, bahkan dia akan langsung memberikan pandangan-pandangan yang keras dan merusak.

Saran kakek,…. Cobalah selesaikan sendiri masalahmu itu. Pertama-tama, perhatikan pelan-pelan masalahmu itu. Carilah penyebabnya, uraikan satu persatu. Kalau kamu merasa kesulitan, buat dirimu santai sejenak. Karena perasaan yang gundah, tidak akan bisa membantu menemukan apa-apa, kecuali tambah gundah hati dan perasaanmu.

Akhirnya, kakek hanya bisa berharap mudah-mudahan kalian semua tidak sering diliputi masalah. Sehingga kalian tidak perlu bingung membuang sampah pikiran kotor kalian.