Bulan Agustus baru berjalan setengahnya, udara dingin sudah menusuk tulang sejak sore. Orang-orang yang sudah berumur, mulai was-was akan kambuhnya rematik dan segala macam penyakit. Dinginnya malam menjadi alasan bagi beberapa orang untuk tetap berada dirumahnya masing-masing, membuat malam ini menjadi semakin sepi. Terutama di desa lereng bukit, seperti desa Ledok Geneng.

Di ujung timur desa yang sunyi ini, berdiri sebuah rumah dengan ciri khas jawa, yang tidak terlalu besar dan sudah terlalu tua membelakangi jalan desa. Bila dilihat sekilas, seolah-olah rumah ini ingin memisahkan diri dari bagian desa. Ketika mbah Mangun menggeser rumah tersebut, sekaligus memutar rumahnya menghadap ke hutan, desa Ledok Geneng diramaikan oleh isu yang menarik. Kejadian ini menjadi bahan pembicaraan warga desa selama sebulan!

Ada yang mengabarkan kalau Mbah Mangun ingin bertapa, ada pula yang bercerita kalau Mbah Mangun sedang mencoba ilmu baru. Ada yang bisik-bisik kalau Mbah Mangun mendapat perintah dari penunggu hutan di timur desa, bahkan ada yang lebih gila lagi, yang menceritakan bahwa Mbah Mangun ingin kawin lagi.

Dan setiap ada yang ingin mendapatkan kebenaran dari cerita burung ini, dengan menanyakannya langsung kepada Mbah Mangun, jawabannya selalu berbeda-beda. Dan cara menjawabnya pun terkesan sekenanya saja. ‘Ah,… rumahku sudah terlalu tua, biar dia tidak malu dengan rumah-rumah yang masih muda’. ‘Oh,… itu karena saya malas mengecat pagar setiap 17an’. ‘Ya,… saya sedang ingin melihat hutan siang dan malam’. Dan jawaban-jawaban aneh lainnya. Warga desa pun akhirnya seolah-olah sepakat untuk tidak lagi membicarakan masalah ini. Mereka hanya bisa tersenyum saja, karena mereka sudah hafal, Mbah Mangun ya begitu!

Seperti yang dilakukannya sekarang. Di saat semua orang berada di dalam rumahnya masing-masing sambil memeluk lutut yang ngilu, dia malah sedang sibuk menyusun kayu bakar di samping rumahnya. Sejak sore dia menyibukkan diri mulai dari mencabut tiga batang ketela pohon, memanen pisang di samping rumah, menyapu halaman dan kegiatan ringan lainnya. Badannya kelihatan segar, karena tadi siang dia dapat tidur agak lama. Tumben hari ini tidak ada anak-anak yang bermain di halamannya. Biasanya penuh dan ramai, mungkin mereka sedang mengikuti atau nonton perlombaan 17an di Balai Desa.

Anak-anak muda dan remaja di kampung ini, semua kenal mbah Mangun. Karena mereka sering bermain di pekarangan yang luas miliknya. Tidak peduli seramai apa mereka bermain, bahkan ada yang nakal sampai melempari mangga atau jambu, Mbah Mangun hanya tersenyum saja saat melihat tingkah mereka. Terkadang di antara mereka saling berbisik, menanyakan kewarasan Mbah Mangun. Karena kebiasaan mbah Mangun itu tidak sama dengan bapak atau kakek mereka yang terlalu banyak memberikan larangan.

Di pekarangan mbah Mangun, anak-anak bisa melakukan apa saja, termasuk yang nakal-nakal. Mbah Mangun tidak pernah melarangnya. Malah disiapkan kotak P3K di samping rumahnya. Kelonggaran mbah Mangun ini pernah diprotes oleh bapak-bapak mereka, Dia pun memberi jawaban dengan cukup mengejutkan! ‘Ya itu wajar,… anak-anak itu kan memang nakal. Nanti kalau sudah besar sedikit, juga akan berubah menjadi tidak nakal lagi. Tapi kurang ajar! Itulah yang dilakukan anak-anak remaja. Kalau kalian semua, para orang tua, juga benar, maunya kalian itu menang sendiri.’ Jawab mbah Mangun sambil terkekeh-kekeh dan berlalu dari mereka yang protes.

Di mata anak-anak, Mbah Mangun hanyalah orang tua biasa, setinggi 170 cm, kurus tapi lebih sehat dibandingkan kakek-kakek mereka. Rambutnya yang memutih selalu dicukur pendek. Tidak ada keistimewaan sedikitpun dari sosok mbah Mangun, hanya saja mereka selalu heran apabila bapak-bapak mereka sedang berurusan dengan Mbah Mangun. Semua kakek-kakek di kampung ini seolah-olah membela mbah Mangun. Mbah Mangun begitu dihormati oleh kakek-kakek mereka, tapi tidak oleh bapak-bapak mereka. Karena mereka sering kali dibuat jengkel oleh tingkah Mbah Mangun.

Malam belum lama jatuh, tetapi bayangan hitam sudah mendominasi pekarangan Mbah Mangun. Lampu dop 5 watt yang dipasang di sudut rumah, bahkan tidak cukup untuk menerangi lorong sampai pinggir jalan. Seolah-olah hanya pertanda kalau di tengah kegelapan itu ada sebuah rumah. Dengan cahaya yang redup ini, sulit menerka umur Mbah Mangun yang masih gesit mengumpulkan dahan dan ranting. Saat Kampret memarkir mobilnya di pinggir jalan, dia bahkan tidak memalingkan muka  ke arah suara mobil. Baru ketika Robert, Kampret dan istrinya mulai memasuki halaman samping dan menyapanya, dia sempatkan diri menoleh.

Kampret: Selamat malam Mbah.

Mangun:  Weh… kok rombongan, mau latihan upacara di sini apa?

Tukiyem: Mumpung besok libur Mbah, juga lagi tidak ada pekerjaan di rumah.

Kampret: Sudah agak malam kok masih sibuk Mbah?

Mangun:  Ah,… hanya mengumpulkan ranting dan dahan kering saja, untuk ‘genen’ (api unggun), lumayan mengurangi dingin dan sekedar mengusir nyamuk, he he he…. Ayo, silahkan di teras depan saja! Di sini anginnya agak kencang.

Kampret: Diselesaikan saja dulu kesibukannya Mbah, sekalian saya bantu.

Mangun:  Ah,… tinggal menyalakan apinya saja kok Pret, eh tolong ambilkan ketela pohon di samping ‘genthong’ (periok besar untuk cuci kaki) itu Pret! Lumayan, untuk ganjal perut.

Kampret: Tolong buatkan kopi pahit ya Yem, sekalian yang lain.

Tukiyem: Saya mau membuat wedang jahe untuk menghangatkan tubuh, apakah mau kopinya saya campur jahe sedikit?

Mangun:  Wah,… ide yang bagus itu nduk, sekalian wedang jahenya yang banyak. Di dapur ada teko, untuk selingan kopinya.

Kampret: Aku juga minta dicampur jahe sedikit Yem.

Robert:    Apa tidak kedinginan to Mbah? Kok hanya memakai kaos oblong.

Mangun:  Dingin juga, tapi setelah mondar-mandir, agak hangat juga. Nah mumpung kita bertiga, bagaimana kalau tumpukan kayunya kita pindahkan ke depan rumah saja? Selain untuk menghangatkan badan, juga kita bisa menunggui ketelanya sambil duduk-duduk di teras.

 

Tanpa menjawab, Robert yang berbadan besar, langsung memindahkan hampir separuh tumpukan kayu ke depan rumah. Mereka bertiga-pun mulai menata ulang api unggun dan menyalakannya. Ketika api unggunnya sudah dinyalakan, Tukiyem juga sudah selesai mempersiapkan minuman hangat dan makanan ringan yang dibawa dari rumah. Beruntung sekali mbah Mangun membuat tikar pandan yang ukurannya tidak normal. Sehingga mereka berempat bisa duduk leluasa di atasnya.

Robert:    Sebenarnya sudah sejak tiga hari yang lalu saya ingin kesini Mbah, tapi Mas Kampret minta bareng ke sini dan baru bisa hari ini.

Kampret: Sekalian nunggu pas hari libur Mbah, karena istri saya ingin sekali ikut ke sini.

Mangun:  Kelihatannya kok serius sekali, apa ada persoalan yang mendesak?

Robert:    Rasa penasaran saja Mbah, hampir satu minggu ini rasanya seperti terlalu lama. Di kantor, semua orang seolah ingin marah saja. Di rumah, istri juga sering ngamuk. Saya terus bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat orang-orang ini cepat marah.

Mangun:  Orang marah itu, karena keinginannya tidak terpenuhi.

Kampret: Terus, apa lagi mbah?

Mangun:  Apa lagi apanya?

Kampret: Sebab yang lain!

Robert:    Hanya itu penyebabnya Mbah?

Mangun:  Sebab orang marah yang paling umum,  ya hanya itu. Kalau ingin lebih mendalam, bisa menghabiskan sisa malam kita nanti.

Kampret: Karena besok hari libur dan Tukiyem sudah ikut saya sekarang, saya siap sampai pagi Mbah.

Tukiyem: Iya Mbah, saya rasa masalah ‘Kemarahan’ ini adalah masalah kita semua. Saya ingin sekali ikut mendengarkannya juga. Ini adalah topik yang sangat menarik, mudah-mudahan Mbah Mangun tidak keberatan.

Mangun:  Ha ha ha… Tentu saja saya tidak keberatan. Bahkan menarik juga, melewati sisa malam ditemani anak-anak muda yang antusias.

Robert:    Benar Mbah, tapi tolong dimulai dari keterangan Simbah mengenai ‘Keinginan yang tidak terpenuhi’ sebagai sebab yang umum dan sering kita alami, dari segala penyebab kemarahan.

Mangun:  Baiklah, tapi tolong angkat dulu singkongnya Pret, baunya sudah harum, pasti sudah masak.

Tanpa berkata-kata lagi, Kampret langsung menuju api unggun, diikuti Tukiyem dan mereka berdua mulai sibuk memilah singkong yang sudah masak. Sementara Robert kembali ke mobil mengambil bungkusan yang dibawanya dari rumah. Beberapa bungkus rokok dan satu slop rokok kretek khusus untuk mbah Mangun. Mbah Mangun-pun beranjak berdiri, menuju pakiwan (kamar mandi).

Saat semuanya sudah ada di beranda lagi, merekapun mulai mencicipi singkong yang masih panas. Setelah meminum jahe hangat untuk melegakan tenggorokan, Mbah Mangun mulai berbicara.

Mangun:  Seperti yang diinginkan nak Robert, kita akan mulai dari yang paling sederhana dulu, sebab kemarahan adalah ‘Kesenangan’.

Robert:    Kesenangan? Saya lebih tidak memahaminya Mbah, saat Mbah Mangun di awal cerita tadi memberikan jawaban bahwa sebab kemarahan adalah ‘Tidak Terpenuhinya Keinginan’ saya agak mengerti walaupun agak kabur. Tapi sekarang, kesenangan sebagai sebab utamanya?

Mangun:  Ya! Kesenangan adalah sebab utama, bukan satu-satunya sebab tentu saja. Tapi kesenangan inilah yang mendominasi sebab kemarahan. Nanti akan kita sambungkan benang-merahnya perlahan-lahan. Kalau kejengkelan sebagai sebab kemarahan, kalian semua pasti sudah tahu. Dan saya yakin kalian tidak perlu ke sini malam ini.

Tukiyem: Baiklah Mbah, kami akan mencoba memahaminya pelan-pelan. Saya yakin, masalah kemarahan ini bukanlah masalah sepele. Karena dia menjadi masalah bagi kita semua. Dan untuk menyelaminya, saya juga percaya akan sedikit rumit. Tapi saya berjanji akan mendengarkannya pelan-pelan Mbah.

Mangun:  Itu baru semangat!

Kampret: Tapi tolong mbah Mangun untuk bersabar, kami bukanlah golongan orang cerdas. Jadi akan ada banyak pertanyaan dan permohonan untuk mengulang beberapa keterangannya.

Robert:    Benar Mbah, saya setuju. Kita mulai lagi dari awal, Kesenangan sebagai sebab kemarahan.

Mangun:  Begini, saat kamu marah melihat sampah berserakan di halaman rumahmu. Pertanyaan yang pertama kali muncul adalah, ‘Siapakah orang gila yang sembarangan membuang sampah di halaman saya’. Kalau saja anda bercerita kepada semua orang di kampung ini, bahwa kamu sedang marah karena ada orang yang sembarangan membuang sampah, saya percaya semua orang akan memahaminya. Mereka pun setuju, kalau kemarahanmu itu muncul, disebabkan oleh ‘orang yang mengotori halaman rumahmu’.

Robert:    Karena itu yang sebenarnya terjadi Mbah, dan penyebab kemarahan saya adalah orang yang membuang sampah itu.

Mangun:  Dan kamu tidak tahu siapa sebenarnya orang itu bukan? Nah sekarang kamu akan meluangkan waktu untuk mencari tahu siapakah orang yang membuang sampah itu. Saat bertanya kesana-kemari, dan tidak ada orang yang bisa memberikan keterangan tentang orang yang kamu cari, kamu bisa lebih marah lagi. Sebenarnya, ini adalah kemarahan baru,  kemarahan kedua. Dan kamu akan semakin marah kepada orang yang sama, yang belum diketahui itu, karena munurutmu dialah biang masalahnya. Apabila situasinya menjadi berbeda, misalnya saja orang-orang yang kamu mintai keterangan itu merasa terganggu dan membuat orang tersebut marah. Kamu akan punya persoalan baru dengan orang yang lain lagi, dan akar masalahnya tetap saja, yaitu orang yang sama. Si pembuang sampah! Demikianlah, banyak kekacauan di sekitar kita yang ujung-ujungnya disebabkan oleh ‘Orang yang tidak kita ketahui sejak awal’. Semakin besar kemarahan kita, maka dorongan untuk menyelesaikannya pun semakin besar. Seperti  mesin pada kendaraan, semakin besar cc-nya, semakin besar pula dorongannya. Dan kalian juga tahu akibatnya, seandainya terjadi kecelakaan, bisa dipastikan dampaknya akan lebih parah bukan?

Robert:    Saya akui, memang demikian yang bisa terjadi pada diri saya dan sebagian orang Mbah.

Mangun:  Dan apakah masalahmu dengan si pembuang sampah ini akan selesai? Apakah masalah ini bisa tuntas?

Robert:    Bisa selesai, bisa tidak Mbah.

Mangun:  Saya percaya, penyelesaiannya adalah dengan memaksanya selesai. Mengapa saya menyebutnya ‘memaksanya untuk selesai?’ Karena masalah ini, tidak bisa selesai dengan sendirinya. Lalu, siapa yang memaksanya? Masalah ini akan dipaksa selesai oleh situasi yang baru. Bukan kamu yang memaksanya selesai, melainkan ‘Situasi Baru’-lah yang memaksanya selesai. Misalnya kalian punya kesibukan lain yang lebih penting dari masalah ini. Maka, kesibukan lain yang lebih penting-lah yang memaksanya selesai. Atau karena sudah merasa buntu. Buntu karena kamu yakin tidak akan selesai, sehingga kamu mencoba melupakannya.

Robert:    Maksud Mbah Mangun, selesai tapi tidak tuntas?

Mangun:  Ya! Selesai tapi tidak tuntas!

Robert:    Apakah ada bedanya Mbah? Bukankah keduanya tetap saja selesai?

Mangun:  Berbeda!… apabila kamu punya persoalan yang kamu anggap selesai tapi tidak tuntas, sebenarnya persoalan itu masih menggantung di sana. Suatu saat, apabila ingatanmu muncul kembali, maka kemarahan yang sama akan muncul kembali. Misalnya saja di lain kesempatan, di sore hari Minggu misalnya, di saat kamu sedang menikmati indahnya bunga-bunga di halaman. Kamu begitu senang dengan keindahan yang ada, waktu itu. Pada saat yang sama, kamu punya pikiran, apakah kamu bisa menikmati keindahan ini secara terus menerus? Muncullah di tengah-tengah pikiran itu, berbagai persoalan sebagai penghalang kesenangan tadi. Termasuk didalamnya adalah sampah yang berserakan. Secara spontan, ingatanmu akan dibawa lari pada persoalan yang pernah terjadi. Yaitu tangan-tangan jahil yang bisa merusak tamanmu kapan saja. Tentu saja perasaan jengkel dan marah akan sulit dibendung. Bukankah kamu bisa marah berkali-kali hanya karena sebab yang satu kali? Apakah kondisi ini tidak mengganggumu?

Robert:    Tentu saja mengganggu Mbah, bahkan dalam hitung-hitungan bisnis, keadaan demikian sangat tidak menguntungkan. Saya harus membayar bunga yang berkali-kali dari hutang yang saya lakukan sekali saja.

Mangun:  Tepat sekali. Demikianlah persoalan yang kamu anggap selesai, sejatinya tidak benar-benar selesai. Situasi ini terjadi hanya karena ada kepentingan lain yang lebih mendesak, dan menuntut perhatianmu saja. Suatu saat, pikiran-pikiran yang belum terselesaikan itu akan muncul kembali.

Robert:    Terus, bagaimana kita bisa membedakan suatu masalah yang kita hadapi itu sudah selesai tapi mengambang atau selesai dan tuntas Mbah?

Mangun:  Pada saat kamu sudah berhenti memikirkan masalahmu, tanpa harus memaksanya berhenti. Atau pada saat kamu tidak punya pikiran baru yang lebih mendesak  yang menggantikannya.

Robert:    Kurang paham Mbah.

Mangun:  Nah, marilah kita coba bersama-sama menganalisa masalah ini dari awal, sehingga muncul pandangan-pandangan baru. Saat kamu melihat halaman yang dipenuhi sampah berserakan, kamu marah. Harusnya, kamu bertanya kenapa saya marah? Jawabnya ‘saya tidak suka melihat halaman yang kotor’. Saat kamu bertanya lagi, kenapa tidak suka? Karena kamu lebih suka melihat halaman yang bersih. Harusnya kamu tidak keberatan kalau saya sebut bahwa, ‘Kamu marah melihat halaman yang kotor, karena kamu senang melihat halaman yang bersih’. Bolehkah saya mengatakan bahwa, ‘Kesenanganmu pada halaman yang bersih, menyebabkan kamu marah saat melihat halaman yang kotor’?

Robert:    Ha ha ha… menarik sekali. Tapi susah sekali menerima kenyataan demikian Mbah. Apakah ini tidak bisa disebut menyalahkan diri sendiri atas kesalahan orang lain?

Mangun:  He he he… benar sekali. Dalam hidup bermasyarakat, tentu ini menjadi kejanggalan. Bukankah dulu pernah saya sampaikan bahwa orang-orang yang disebut baik, itu punya kecenderungan dan beresiko disebut ‘Orang Bodoh’? Saat kamu melihat situasi dengan jernih, dan memahami masalahnya dengan jelas. Yang muncul adalah kesadaran, bukan menyalahkan diri sendiri. Situasinya sangat berbeda. Menyalahkan diri sendiri, cenderung menimbulkan penyesalan dan menuntut penyelesaian. Saat kamu ingin punya halaman yang bersih dan indah, itu bukan kesalahan. Hanya saja saat kemarahan itu muncul karena halaman yang kotor, di situlah yang kurang benar.

Kampret: Jadi, ketika saya marah karena melihat halaman yang kotor, penyebabnya adalah saya ingin melihat halaman yang bersih. Mengapa saya marah?… Karena keinginan saya atas halaman yang bersih, tidak saya dapatkan. Bisa juga saya simpulkan bahwa, kesenangan adalah penyebab kemarahan. Saya agak paham Mbah, tapi bagaimana caranya agar saya bisa memperoleh kesenangan-kesenangan ini, tanpa menimbulkan kemarahan? Bukankah kesenangan-kesenangan ini, sewaktu-waktu bisa berubah menjadi kemarahan?

Mangun:  Ha ha ha… pertanyaan yang cerdas dan sulit. Caranya adalah, lakukan saja apa yang harus kamu lakukan, yang penting tidak menyakiti dirimu sendiri.

Tukiyem: Nah,… kan kumat lagi, Mbah Mangun mengeluarkan jurus yang susah dipahami.

Mangun:  Susah? Harusnya tidak susah to Yem. Saat kamu ingin melihat halaman yang bersih, kamu boleh melakukan apa saja, boleh  memikirkan apa saja, agar halamanmu menjadi bersih. Saat kamu marah, di situlah yang saya maksud ‘menyakiti diri sendiri’. Mungkin kamu mencoba membuat tulisan di halaman agar orang tidak membuang sampah sembarangan, mungkin kamu menempatkan tempat sampah yang besar dan mudah dilihat, atau kamu bisa menyewa orang untuk membersihkan halamanmu. Namun cara yang paling gampang dan cepat agar kamu bisa melihat halamanmu bersih adalah, ambil sapu dan mulai menyapu halaman sampai bersih.

Kampret: Ha ha ha,… itu cara paling gampang dan cepat! Saya setuju sekali Mbah. Kalau mau lihat halaman yang bersih, ambil sapu dan langsung disapu. Tidak usah berpikir terlalu panjang.

Robert:    Analogi yang sangat menarik Mbah. Tapi saya tidak yakin, cara seperti itu bisa menyelesaikan persoalan kemarahan yang begitu banyak.

Mangun:  Tentu saja tidak akan sama persis dalam setiap kasusnya. Namun demikian, secara garis besarnya dia akan memakai pola yang sama.

Robert:    Mbah Mangun menyebutnya pola? Seperti suatu proses mesin yang tetap, pada mental dan emosi manusia yang begitu kompleks?

Mangun:  Ya, pola! Kita semua berjalan sesuai pola. Pikiran dan mental kita juga berjalan dengan pola.

Kampret: Sebentar, kemana kira-kira arah diskusi kita ini? Bukankah kita sedang membahas masalah kemarahan?

Mangun:  Benar, kita sedang menyelidiki masalah kemarahan. Tapi agar permasalahan ini bisa tuntas, kita perlu meneliti juga pada kedalamannya.

Tukiyem: Saya setuju pada semua gagasan itu. Tapi kalau boleh saya usulkan, bagaimana kalau kita selesaikan masalah analogi tadi sampai benar-benar paham. Kemudian kita pelan-pelan masuk ke kedalaman. Sehingga kita tidak kehilangan arah, karena perhatian kita seperti diaduk-aduk. Agak sulit bagi saya untuk memahami masalah yang melompat-lompat. Biarkan satu persoalan mengendap, baru kemudian kita akan memulai persoalan yang baru. Sekalipun itu berhubungan, tetap saja menurut saya itu lompatan. Sehingga kita tidak bisa melihat masalah ini dengan terang. Maaf, kepala saya tidak sebesar kepala anda semua.

Mangun:  He he he… benar sekali seperti yang dikatakan Tukiyem. Marilah kita kembali lagi pada masalah analogi tentang halaman yang kotor.

Tukiyem: Baiklah, saya punya masalah di kantor. Pimpinan saya sering marah belakangan ini, gara-gara banyaknya surat ijin. Sedangkan ada pekerjaan yang menuntut penyelesaian secepatnya.

Kampret: Bosmu ingin semua karyawan hadir setiap hari. Kenyataannya, banyak yang tidak hadir. Wajar saja kalau dia marah.

Tukiyem: Terus penyelesaian yang bijaksana bagaimana?

Kampret: Ya biar diselesaikan sendiri sama bosmu! Kamu tidak perlu ikut  repot-repot berpikir.

Tukiyem: Ini kan sekedar contoh? Kok kamu malah sewot begitu? Lagian, saya kan karyawan di sana, wajar dong kalau saya ikut berpikir.

Kampret: Ya, tapi…

Mangun:  Sudah-sudah jangan bertengkar di sini. Kalian itu ganteng dan cantik, tapi kalau marah mukamu jadi merah dan jelek. Awas nanti menghabiskan singkong saya.

Tukiyem: He he he,… maaf mbah!

Robert:    Ha ha ha,… ayolah jangan bercanda. Seandainya ini adalah masalah saya, maka yang harus saya lakukan adalah memobilisasi sisa karyawan yang ada.

Kampret: Sebentar, solusi penyelesaian kasus per kasus yang kita bahas sekarang belum menyelesaikan masalah intinya. Yaitu menghentikan kemarahan. Kalau boleh saya simpulkan, penyelesaian kasus ini masih menyisakan kejengkelan Mbah.

Mangun:  Benar sekali, saya sudah berjanji untuk membahas masalah ini  sampai tuntas. Sekarang ini kita masih menyelidiki sebab dari kemarahan terlebih dulu. Bukankah sekarang masih sore? Dan kamu sudah bersedia siap mendiskusikannya sampai pagi?

Kampret: Oh iya,… saya jadi terbawa suasana mbah.

Mangun:  Baiklah sekarang dengarkan baik-baik. Mari kita mulai dari awal lagi. Kita simpan dulu semua analogi tadi, nanti kita akan menyambungnya kembali.

Ibaratnya penyakit, kita harus tahu dulu kalau kita sedang sakit. Pada awalnya kita tidak tahu, kalau kita sedang sakit. Setelah kita merasakan dan mengamati gejalanya, misalnya badan kita terasa sakit atau panas, maka kita menyimpulkan bahwa kita sedang sakit. Karena sakit ini mengganggu kenyamanan kita, maka secara naluri, kita berupaya untuk bebas dari gangguan ini. Nah, misalkan saja cara untuk membebaskan diri dari penyakit ini adalah dengan cara meminum obat. Maka yang akan kita lakukan selanjutnya adalah berupaya mencari obat tersebut. Saat mencari obatpun harus ada landasannya, tidak sembarangan mencari bukan? Untuk mengetahui obat apa yang sesuai agar penyakit itu bisa sembuh, kita harus menyelidiki penyakit ini dengan cermat. Mulai dari karakteristiknya, sebab-sebab kemunculan dan faktor-faktor pendukungnya. Baru kita bisa tahu jenis penyakitnya. Setelah tahu dengan persis jenis penyakit ini, barulah kemudian kita meramu obatnya.

Menurut saya, begitulah cara kita untuk  menyelesaikan suatu masalah. Kita harus memiliki struktur cara berpikir yang urut seperti itu, agar semuanya bisa diselesaikan dengan cermat dan benar. Nah kebetulan sekali, sekarang ini kita sudah menetapkan jenis penyakitnya.  Penyakit kita adalah “Kemarahan”.

Bagaimana kalau kita mulai dari awal sekali, mulai dari mengamati kemunculan kemarahan itu sendiri, sekaligus mengamati gejalanya. Dari sini, kita akan lebih mudah mengamati sebab-sebab kemarahan lebih terperinci, baik itu sebab yang paling dekat maupun sebab-sebab jauhnya? Bukankah kalian tadi menginginkan sebab yang lebih dari satu?

Atau bahkan kita perlu mempertanyakan hal yang paling mendasar dari masalah kita. Mengapa ‘Kemarahan’ itu kita sebut sebagai penyakit yang harus disembuhkan?

Kampret: Setuju sekali Mbah, lebih baik kita mulai dari awal sekali. Mengapa kita harus berdebat semalaman di sini untuk membahas ‘Kemarahan’. Seberapa penting kemarahan ini menjadi pengganggu dalam hidup kita sehari-hari.

Mangun:  Wah ini kok malah seperti tuntutan orang ‘demo’ saja.

Baiklah, kita mulai dari awal. Kenapa kita perlu mewaspadai kemarahan. Apa saja kerugian dari kemarahan ini. Tentu saja kita tidak perlu mencari tahu keuntungannya, karena selain menghabiskan waktu, juga kontra produktif dengan apa yang akan kita bahas malam ini.

Yang pertama-tama, kemarahan ini mengaburkan realitas yang sebenarnya. Gagasan untuk mencari kebenaran yang sejati, akan sirna setelah muncul emosi. Jadi emosi ini punya karakter menyelimuti kebenaran. Dan saat kalian sudah tidak peduli lagi dengan kebenaran, lalu apa yang anda harapkan dapat terjadi pada hidup kalian.

Kampret: Bisa diberikan ilustrasi sedikit Mbah? Agar ada kemantapan dalam menelaah keterangan Mbah Mangun.

Mangun:  Setiap ada peristiwa yang tidak menyenangkan dan emosi muncul, maka ide mencari kebenaran sudah dibungkus oleh emosi. Dan emosi ini menuntut pelampiasan dengan bentuk kemarahan pada subyek penyebab masalah, tanpa mau mengerti situasi yang sebenarnya. Saat halaman rumah kalian kotor, yang ingin kalian lakukan saat emosi adalah memaki-maki orang yang membuang sampah sembarangan. Pikiran kalian tidak mau lagi menggagas kemungkinan-kemungkinan lain seperti, mengapa orang ini membuang sampah sembarangan? Apakah benar, ada orang yang sengaja menyebarkan kotoran di halaman? Atau apakah tadi anginnya bertiup terlalu kencang, sehingga menerbangkan kotoran kemana-mana? Atau ada anjing yang membawa kotoran bekas makanan orang dari tempat lain dan membawanya ke halaman kalian? Sehingga halaman tersebut menjadi kotor.

Saat beberapa karyawan banyak yang tidak hadir. Karena dorongan ketakutan bahwa proyek bosmu  tidak selesai pada jadwal yang ditetapkan. Atau bahkan bayangan kerugian yang mungkin bisa dialaminya, maka si Bos ini marah. Kemarahan ini menuntut pelampiasan. Tuntutan pelampiasan kemarahan ini, tentu saja menghalang-halangi pikiran yang bisa saja muncul seperti misalnya, apakah keluarga karyawan saya di rumah baik-baik saja? Apakah karyawan yang selama ini membantu saya, sekarang sedang baik-baik saja? Apakah ada sesuatu yang buruk sedang menimpa anak buah saya?

Demikianlah, kemarahan menutupi ide-ide baik yang bisa menjadi kebenaran dari sebuah peristiwa. Saat ada orang yang berkendara ‘ngebut’ di jalanan tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri, ada kemungkinan dia memang orang yang kurang ajar. Tapi bisa juga dia baru menerima kabar duka, kalau ibunya membutuhkan darah yang sesuai dengan golongan darahnya di rumah sakit. Kalian tidak akan pernah tahu kebenarannya, saat emosi menutupi ide-ide tersebut.

Tukiyem: Itu sering terjadi Mbah. Dan saat kebenaran atas peristiwa-peristiwa itu terungkap, maka penyesalanpun muncul belakangan. Saat peristiwa itu adalah peristiwa yang sangat serius dan penting, maka penyesalanpun sangat mendalam.

Mangun:  Baiklah, berikutnya kemarahan ini menuntut pelampiasan. Istilah pelampiasan, tentu saja memerlukan obyek. Yaitu obyek pelampiasan kemarahan. Saat kemarahan ini muncul dan berkembang makin besar, tuntutan pelampiasannya-pun makin besar pula. Apakah tuntutan emosi yang besar ini membahayakan?

Pada situasi dan kondisi tertentu, keadaan ini sangat membahayakan. Kalian bisa saja membuat keputusan yang keliru dan menimbulkan kerugian di kemudian hari. Situasi inilah yang sering dipakai oleh orang-orang licik dalam mengeruk keuntungan. Apakah berbentuk rayuan, atau bahkan sindiran-sindiran halus. Orang-orang sering menyebut perilaku ini dengan istilah ‘Memancing Emosi’.

Situasi lain yang tidak kalah bahaya adalah ‘Pelampiasan yang Salah Alamat’. Saat kalian melampiaskan kemarahan pada orang yang keliru, maka situasi ini bisa menimbulkan pertengkaran yang sulit diselesaikan. Karena kedua belah pihak sama-sama punya alasan yang kuat dan semuanya keliru. Pada saat emosi membumbui pertengkaran ini, kalian bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

Ada lagi ‘Pelampiasan Kurang Perangko’

Robert:    Kurang Perangko?

Mangun:  Ya kurang perangko

Kampret: Istilah apa lagi itu mbah?

Mangun:  Pelampiasan yang tidak sampai pada alamat yang dituju. Pada saat kemarahan tidak dapat dilampiaskan pada obyek yang dituju, kemarahan ini tertahan tapi tidak hilang. Dia dibawa kemana-mana. Bahkan sering kali, kemarahan ini dibawa pulang sampai rumah.

Tukiyem: Nah!… saya adalah korban ‘Pelampiasan Kurang Perangko’ Mbah.

Kampret: Terus, kalau ada orang yang sering ‘Manyun’ dan ngambek tanpa sebab, apa itu namanya? Pelampiasan perangko ganda? Siapa yang jadi korbannya?

Robert:    Ha ha ha…..

Kampret: Kenapa Bet? Ada yang lucu?

Robert:    Ah,… jangan terbawa dulu. Saya tertawa karena saya paham, kalau saya adalah korban ‘Pelampiasan Kurang Perangko’ juga, ha ha ha.

Mangun:  Hus!… kalian ini rombongan korban kok bangga.

Kampret: Sebenarnya cukup menjengkelkan Mbah.

Mangun:  Sudah-sudah! Tidak perlu diperpanjang lagi. Yang jelas, kalian sudah paham mengenai bahaya kemarahan bukan?

Tukiyem: Sudah Mbah.

Kampret: Paham Mbah.

Robert:    Terang sekali Mbah.

Mangun:  Nah, kalau sudah jelas ‘Kemarahan’ itu berbahaya bagi kehidupan kalian, seyogyanya kalian melepaskan diri dari kemarahan ini. Untuk menentukan obat atau cara melepaskan diri dari cengkeraman kemarahan, tentu saja kalian harus menyelidikinya lebih mendalam tentang kemarahan ini.

Pertama-tama, kalian harus tahu sebab dari kemarahan ini. Sebab terdekat adalah ‘Tidak Senang’. Rasa tidak senang ini bisa muncul disebabkan oleh beberapa macam alasan. Alasan yang paling dominan adalah ‘Kesenangan’. Pada umumnya, kita ingin selalu hidup dalam kesenangan. Nah, apabila kesenangan ini terputus, atau bahkan tidak terpenuhi, maka rasa tidak senang akan muncul.

Bukankah seperti yang saya sampaikan tadi? Bahwa keinginan yang tidak terpenuhi adalah sebab dari kemarahan. Pada saat ide-ide yang menyenangkan ini tidak bisa kita wujudkan, munculah suatu perasaan yang tidak menyenangkan. Apabila perasaan ini lemah, dia hanya nampak sebagai ‘Kesedihan’ saja. Sebaliknya, apabila perasaan ini kuat, dia akan memicu emosi kita dan bisa berubah menjadi ‘Kemarahan’.

Sampai di sini, apakah kalian bisa memahaminya?

Robert:    Pada dasarnya kita ingin hidup senang. Saat terjadi situasi di mana kita gagal meraih kesenangan, maka kita akan sedih. Apabila sedih ini berlanjut, maka kemarahan akan muncul.

Kampret: Betul sekali! Kira-kira seperti itu kesimpulan saya Mbah. Bahkan keterangan Mbah Mangun tidak memerlukan ilustrasi untuk menangkap dan memahaminya. Tapi, ini menimbulkan kekacauan baru. Sekalipun ini adalah realitas dan kenyataan dalam hidup kita, saya masih sulit untuk mempercayainya.

Kalau kesenangan-kesenangan itu secara tidak langsung bisa menyebabkan kesedihan, maka situasi ini adalah situasi yang kontradiktif. Apakah hidup ini hanyalah panggung paradok? Kita sadari atau tidak, kita semua bergelut dengan situasi seperti ini, setiap hari sepanjang hari. Kenyataan ini benar-benar  mengganggu saya. Bukankah seluruh daya dan upaya yang kita lakukan setiap hari sepanjang hari hanya untuk menemukan kesenangan itu?

Mangun:  Dan pernahkah kamu menghitung berapa kali kamu senang dan berapa kali kamu sedih dalam satu hari?

Tukiyem: Apakah itu penting?

Mangun:  Tentu saja, itu penting. Sehingga kalian bisa memahami lebih dalam, bahwa sejatinya kalian sedang ‘terombang-ambing’ oleh perasaan senang dan tidak senang setiap hari sepanjang hari. Kalau kalian mau meluangkan waktu sedikit saja dengan memikirkan kehidupan dalam satu hari, maka kamu akan menemukan kenyataan bahwa senang dan tidak senang itu muncul dan lenyap silih berganti. Kalian harus cepat-cepat memahami situasi seperti ini apabila ‘Hidup Tenteram’ adalah tujuan yang mendesak bagi kalian.

Kampret: Nah, itu dia! ‘Hidup Tenteram’! bukankah ini juga keadaan yang menyenangkan? Sehingga apabila tidak terpenuhi, kita akan dirundung kesedihan.

Mangun:  Menurut saya, hidup tenteram bukanlah hidup yang menyenangkan seperti pada umumnya. Dia lebih condong pada situasi hidup yang tenang. Tidak berisik! Dia lebih datar. Tidak ada lonjakan emosi. Situasi tenteram bahkan sulit sekali dirasakan. Cara memahami situasi inipun cukup unik. Yaitu saat kalian tidak mengeluh, di situlah tenteram terjadi.

Robert:    Bisa dikatakan saat tidak terjadi apa-apa, maka kita menyebutnya tenteram?

Mangun:  Betul sekali! Saat tidak terjadi apa-apa, maka semuanya akan tenang. Kira-kira seperti itu.

Tukiyem: Sebelum bahasan ini berbelok lebih jauh, saya ingin kembali pada keberatan kang Kampret. Saat semua orang seolah berlomba mencari kesenangan, tiba-tiba saja kesenangan ini menjadi bibit kesedihan. Kalau memang ini adalah kenyataan hidup, maka ini adalah lelucon yang sulit dipahami Mbah. Saya yakin bukan hanya saya saja yang sulit menerima kenyataan ini, tapi orang-orang di luar rumah inipun akan mengernyitkan dahi dan tidak mau memikirkan ide konyol seperti ini.

Mangun:  Salah satu ciri kebenaran sejati adalah tersembunyi oleh akal yang kalian sebut sehat. Karena akal yang diam, kalian sebut tidak sehat. Saat orang punya banyak keinginan, kalian menyebutnya normal. Dan saat ada orang yang tidak punya keinginan, kalian akan menyebutnya aneh.

Begini, sekarang kita akan mencoba memahaminya dengan ilustrasi yang sangat sederhana. Kalau kita perhatikan lingkungan sekitar kita dengan seksama, maka kita akan melihat begitu banyak ketimpangan. Seperti kasus-kasus korupsi yang terjadi di negara ini. Kalau kita perhatikan sepintas, ini adalah hal yang lumrah, yang bisa terjadi di negara mana saja. Dengarkan baik-baik, saya akan menunjukkan ketimpangan dan kekonyolan masalah ini.

Kita semua tahu untuk menjadi pegawai negeri itu sulit sekali, karena proporsi antara pelamar dan kebutuhan pegawai yang begitu jauh. Situasi ini, mendorong para pendaftar rela melakukan apa saja, termasuk tindakan yang paling konyol seperti meminta bantuan dukun dan penyuapan, agar bisa lolos menjadi pegawai negeri. Setelah mereka menjadi pegawai negeri, jenjang kepangkatan akan dilaluinya dengan sangat lamban, tidak seperti di sektor swasta. Setelah melalui liku-liku yang panjang tersebut, barulah kemudian ada sedikit diantara mereka yang bisa menduduki jabatan-jabatan strategis.

Kita semua juga tahu bahwa seorang koruptor selain mendapatkan hukuman penjara, dia juga akan dicopot dari jabatanya. Bahkan namanya dicoret dari daftar pegawai negeri. Dari sisi mental, seorang koruptor dan seluruh keluarganya akan menanggung beban sosial. Bukan hanya malu, tapi mereka sudah dikelompokkan pada orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Tentu saja dia akan menemui kesulitan dalam menjalani kehidupan di sisa hidupnya.

Sekarang saya tanya, mengapa masih banyak pejabat yang melakukan tindak korupsi? Apakah mereka sudah kehilangan kewarasannya? Atau mereka terlalu bodoh, sehingga tidak bisa melihat dua realitas tadi. Yaitu sulitnya menduduki jabatan dan resiko korupsi. Bukankah keputusan korupsi adalah keputusan yang paling gila?

Kalau saja kalian adalah seorang pejabat dan pegawai negeri yang punya pikiran waras, tentunya kalian tidak akan melakukan tindakan bodoh semacam ini bukan? Tetapi, apakah kalian bisa menjamin pikiran kalian tetap waras?

Menurut saya, ini bukanlah masalah pikiran waras atau tidak waras. Ini juga bukan urusan tahu atau tidak tahu, tapi demikianlah kenyataan yang ada. Banyak di antara kita yang ‘Tidak Mau Tahu’ atas realitas yang ada. Tidak mau tahu atas kebenaran yang ada.

Seperti halnya apa yang kita hadapi setiap hari. Kalian tidak mau menerima kenyataan tentang sakit, tua dan mati. Buktinya, kalian selalu berdoa agar diberi kesehatan dan keselamatan. Pada saat kalian ditinggal mati oleh orang-orang yang kalian cintai, kalian bisa tenggelam dalam kesedihan, menangis berhari-hari. Standar kewarasan macam apa yang kalian perlukan untuk memahami situasi seperti ini? Sebodoh apa diri kalian sehingga sulit menerima kenyataan ini?

Apakah situasi ini cukup wajar bagi kalian? Kalau memang demikian, kalian menganggap situasi ini adalah kewajaran dalam hidup sehari-hari, maka wajar saja kalian sulit menerima kenyataan bahwa kesenangan-kesenangan bisa menjebak diri kalian pada situasi yang sangat menyedihkan.

Kampret: Maaf Mbah,… boleh kita istirahat sebentar? Saya akan mencoba meresapinya dalam jeda ketenangan malam ini. Dada saya agak panas, dan pikiran saya mulai gelisah. Saya rasa akan percuma saja kita lanjutkan diskusi kita kali ini.

Tukiyem: Iya Mbah,… saya juga mau menambah Wedang Jahenya. Mungkin ada yang mau menambah kopi?

Robert:    Saya mau kopi lagi mbak.

Kampret: Buatkan kopi untuk semuanya sekalian Yem. Mbah, saya mau meluruskan kaki sebentar.

Mangun:  Oh, saya juga mau ke pakiwan (kamar kecil).