Kampret segera menuju samping rumah. Sambil menghisap rokok dalam-dalam, dia mulai mondar-mandir. Seolah ingin menghitung jumlah pohon di seberang sungai dalam gelapnya malam. Tenangnya malam yang hampir di puncak, sangat mengganggu pikirannya. Dia bahkan tidak bisa menenangkan pikiran yang berkecamuk barang sebentar. Seolah terlalu banyak persoalan yang berlomba ingin meloncat keluar dari kepalanya. Saat rokok yang dihisapnya hampir separuh, dia mulai bisa mengendalikan dirinya. Pelan-pelan dia merasakan sentuhan angin dingin di lengan dan punggungnya. Tidak terasa dia berjalan agak menjauhi rumah mbah Mangun. Sejenak dia mengamati rumah yang sangat sederhana itu.

Sambil menghirup napas panjang, dia mulai tersenyum. Sungguh aneh, dia berada di sini, di tengah malam yang sepi, di sebuah desa terpencil. Hanya bercakap-cakap saja dengan orang tua yang biasa-biasa saja. Bukan orang terkenal ataupun orang penting. Mungkin bisa dipahami, kalau orang bisa terjaga sampai malam, karena menikmati hiburan. Nonton Wayang misalnya, atau Ketoprak. Tapi sekarang, dia dan bahkan istrinya  tidak menunjukkan rasa kantuk. Malah sebaliknya, seolah badannya segar dan berenergi. Sekarang pikirannya mulai tenang. Kampret mencoba untuk duduk di atas batu di ujung pekarangan Mbah Mangun sambil memandangi rumah tua itu. Seolah sedang menyaksikan Wayang Kulit dari kejauhan.

Robert yang ditinggal sendirian di teras, segera menuju api unggun dan mulai mengumpulkan ranting kering untuk mencoba menghidupkan api yang sudah menjadi bara. Saat dia menengok gentong di teras, dia melihat ada beberapa potong singkong yang masih tergeletak di sana. Dia mengambil tiga potong singkong sebesar lengan dan membawanya ke api unggun yang baru menyala lagi.

Sambil mengorek-ngorek bara di api unggun, pikirannya terus melayang-layang gelisah. Sesekali dia melihat Kampret yang sedang duduk di ujung pekarangan antara kelihatan dan tidak, di remangnya malam. Baru satu tahunan ini dia benar-benar mengenal Kampret, walaupun dia sudah berkawan sejak beberapa tahun yang lalu. Seorang pemuda yang penuh semangat, seorang pemuda yang punya dedikasi tinggi. Kampret adalah kawan yang selalu bisa diandalkan.

Robert kembali tersenyum saat pertama kali mengetahui bahwa, ‘Kampret’ punya arti lain selain nama kawannya itu. Dan makna ‘Kampret’, sungguh berbeda dengan seorang kawan dekat yang menyandangnya sebagai nama sejak lahir. Saat dia bertanya, kenapa namamu ‘Kampret’? dia mendapat jawaban yang cukup serius dari Kampret. ‘Saya juga punya pertanyaan yang sama seperti kamu, tapi saya tidak pernah punya keberanian untuk menanyakannya kepada Bapak saya’. Dan yang selalu diingat oleh Robert adalah pernyataan Kampret bahwa, nama yang diberikan orang tua itu ibaratnya pusaka yang harus diterima dan dilestarikan. Nama hanyalah nama, sebagai ‘tenger’ (menurut orang jawa) untuk membedakan anak satu dengan yang lain.

Sebagai pemuda yang mengenyam pendidikan barat dan dibesarkan di Eropa, Robert sempat terkesima mendengarkan cerita  dan pandangan-pandangan orang tua yang tinggal di pinggir hutan ini, saat pertama kali diperkenalkan oleh Kampret. Kekaguman Robert terhadap Mbah Mangun, menimbulkan banyak pertanyaan. Saat dia bertanya, di mana dulu Mbah Mangun sekolah, dijawabnya dengan santai seperti biasa. Sambil menghisap rokok dalam-dalam dan terkesan sombong, ‘Orang pintar itu tidak harus sekolah, tapi belajar! Dan belajar itu tidak juga harus di sekolahan’. Hampir saja dia melontarkan pertanyaan kedua, ‘Di mana Mbah Mangun belajar?’ tapi niat itu diurungkan. Sejak saat itu, dia selalu menganggap sebagai murid Mbah Mangun. Tapi Mbah Mangun selalu menolaknya, karena dia bukanlah seorang ‘Guru’.

Mbah Mangun selalu menyebut bahwa pengetahuan seperti yang dimilikinya, adalah pengetahuan umum yang biasa saja. Bukan sebagai kelebihan, karena seluruhnya ada di sekitar kita. Untuk mengetahuinya, kita hanya perlu melihatnya dengan teliti. Pengetahuan itu ada di situ, apakah kita melihatnya atau tidak, dia ada di sekeliling kita. Saat kita tidak mengetahuinya, bukan berarti pengetahuan itu tidak ada atau menghilang. Ketidak-tahuan kita itu disebabkan oleh sibuknya pikiran kita, sibuk memikirkan gagasan-gagasan yang lain, yang kita anggap lebih penting.

Setiap kali Robert datang ke rumah ini, dia selalu mendapatkan pengalaman yang baru, mendapatkan pengetahuan baru atau sekedar diingatkan tentang pengalaman yang sudah pernah dilaluinya tapi tidak mendapat perhatian. Seperti dia memasuki perpustakaan saja. Namun berbeda, karena pengetahuan yang dia dapatkan itu bisa saja datang dari dalam dirinya sendiri. Kembali dia menyibukkan diri dengan api unggunnya sambil melirik Kampret yang sedang menikmati malam di sudut pekarangan.

Tukiyem mulai sibuk di dapur menyiapkan kopi dan wedang jahe. Di rumah Mbah Mangun, Tukiyem sudah mulai terbiasa seperti di rumahnya sendiri. Kadang dia tersipu sendiri saat merasakan dirinya seolah berada di rumah mertuanya. Dan ketika perasaan itu terbawa oleh pikiran liar, dia bahkan bisa berangan-angan untuk menukarkan ‘Mertua’-nya dengan Mbah Mangun. Saat dia teringat dengan ide gilanya itu, Tukiyem tidak bisa menahan tawanya. Di rumah Mbah Mangun dia bahkan bisa bebas, karena tidak ada orang yang mencoba menilainya. Dia bisa menjadi dirinya sendiri saat berada di sini. Bahkan seolah-olah dia tidak berusaha atau mencoba menjadi istri yang baik, ketika berada di sini.

Dulu, Tukiyem sempat membenci Mbah Mangun, sebelum mengenalnya langsung. Karena nama mbah Mangun selalu menjadi alasan suaminya setiap kali pulang kemalaman. Dan karena kombinasi antara nama ‘Mbah Mangun’ dan rumah yang terpencil di tepi hutan, Tukiyem pernah juga mencurigai suaminya sedang berguru pada seorang dukun. Tapi setiap dia mendengarkan ide-ide cerdas dari suaminya, yang katanya menurut Mbah Mangun, dia mulai tertarik dengan sosok Mbah Mangun ini. Sampai suatu saat Tukiyem memaksa ikut suaminya, karena rasa penasarannya ingin bertemu langsung dengan Mbah Mangun.

Pertama kali melihat Mbah Mangun, dia hanya melihat orang tua yang biasa saja, seperti kebanyakan orang tua di pedesaan. Tapi setelah bercerita dan berdebat, sosok orang tua kebanyakan ini hilang. Dia berubah menjadi orang tua yang membingungkan. Dia adalah orang tua yang menyimpan seribu satu teka-teki yang sulit sekali ditebak kebenarannya. Selama satu menit, dia bisa menjadi bapak bagi semua orang, di menit yang lain dia bisa menjadi orang yang acuh tak acuh. Suatu saat dia bisa menjadi orang yang sangat berwibawa, di saat yang lain dia begitu sombong. Pada suatu kesempatan dia bisa sangat cerdas dan berpendidikan, di kesempatan lain, dia bisa menjadi sangat menjengkelkan.

Sekarang Tukiyem sudah terbiasa dengan situasi di rumah ini. Yang perlu dilakukannya di sini, di rumah Mbah Mangun adalah tidak perlu berpikir terlalu serius. Mungkin dari situasi yang demikianlah Tukiyem merasa bebas dan sangat nyaman berada di lingkungan rumah Mbah Mangun. Saat dia mengutarakan apa yang dirasakanya kepada suaminya maupun Robert, mereka juga merasakan kenyamanan yang sama.

Kampret mulai memejamkan matanya perlahan dan menikmati desiran napasnya yang mulai halus. Sebelumnya, dia tergoda untuk memaksakan gagasan Mbah Mangun tentang kesenangan sebagai bibit kesedihan agar semua persoalan yang sedang dibahas cepat selesai. Tapi itu sulit dilakukannya. Dia memerlukan waktu sebentar untuk mencoba meresapinya, sehingga pengalaman baru ini benar-benar bisa diterima oleh akal sehatnya. Sekarang dia sudah mulai menyelami permasalahan yang cukup unik ini, sambil mengangguk-anggukkan kepala, dia mencoba berdiri dan berjalan menuju beranda rumah.

Tukiyem sudah duduk di samping Mbah Mangun yang sedang menikmati singkong dan kopi panasnya. Robert mulai berdiri dari samping api unggun, setelah melihat Kampret berjalan menuju beranda.

Tukiyem: Malam ini, rasanya sangat sunyi sekali ya Mbah.

Mangun:  Itu pertanda bagus!

Tukiyem: Bagus?

Mangun:  Ya bagus, saat kamu merasakan sunyi tapi kamu sedang bersama orang banyak, maka kamu bisa menikmati ketenangan. Apabila kamu sedang sendirian, bisa saja ketakutan menyelinap masuk dalam pikiranmu. Di waktu pikiranmu tenang, batinmu akan merasakan ketenteraman. Saat inilah kamu ada pada kecerdasan tertinggi. Karena pikiranmu sedang diam.

Kampret: Setelah saya memanfaatkan waktu senggang sendirian, saya mulai memahaminya Mbah, lalu muncul kembali pertanyaan baru. Apakah kita dalam kehidupan sehari-hari yang memiliki begitu banyak keinginan itu disebut keliru?

Mangun: Pengetahuan itu terkadang hanya perlu diketahui saja, nanti pada saat yang tepatlah pengetahuan ini bisa berguna. Apabila kalian sudah tahu cacat atau resiko dari keinginan-keinginan dan kesenangan-kesenangan ini, bukan berarti kalian harus menghentikannya. Tapi hendaknya kalian perlu mewaspadai kesenangan-kesengan itu agar tidak berubah menjadi kesedihan yang menyakitkan.

Kalian tentu sering mendengar atau melihat tayangan televisi mengenai begitu banyaknya kecelakaan di jalanan bukan? Nah, setelah kalian mengetahui bahayanya berkendara di jalanan, apakah kalian memutuskan untuk tidak kemana-mana? Tentu saja kalian tetap berpergian bukan? Orang yang tahu resiko dari berkendara di jalan, dia akan berhati-hati dan mematuhi segala rambu-rambu yang dipasang di jalan. Namun bagi mereka yang tidak mau tahu resiko ini, dia juga tidak peduli dengan segala macam rambu-rambu itu.

Robert:    Baik Mbah, saya rasa kesenangan sebagai sebab kemarahan, sekaligus keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi, sudah begitu jelas. Bisakah Mbah Mangun memberikan sebab lainnya?

Mangun:  Begini, karena malam sudah larut dan kalian sudah ada pada ketenangan. Bagaimana kalau kita membahas kemarahan ini lebih mendalam. Mulai dari kemunculannya, sehingga kita tahu penyebabnya, sekaligus kita melihat obatnya, lalu kita selesaikan satu persatu.

Tukiyem: Saya rasa itu lebih menarik Mbah. Saya hanya perlu meningkatkan perhatian saya saja.

Mangun:  Bagus!… Pertama-tama, kita akan mengamati indera kita. Sehingga kita bisa memahami bahwa kemarahan itu bisa dipicu dari semua pintu indera kita.

Indera ‘Mata’  menyajikan gambaran tentang segala benda dan bentukan yang ada di sekeliling kita. Saat kita melihat yang bagus-bagus, kita dibuatnya senang. Sebaliknya saat kita melihat yang tidak bagus, kita menjadi tidak senang. Kemarahan yang muncul dari indera mata ini sudah kita bahas tadi. Yaitu mengenai halaman yang kotor.

Tukiyem: Kang Kampret bisa marah melihat saya berjalan dengan teman kantor saya Mbah.

Kampret: Itu karena saya melihat temanmu itu lebih gagah ketimbang saya.

Mangun:  Sebenarnya bukan mata yang salah, saat saya menyebut indera mata sebagai pemicu kemarahan. Semata-mata hanya ingin menunjukkan bahwa alur kejadiannya pertama kali melalui mata. Pada dasarnya, mata hanya berfungsi menghadirkan gambar saja. Yang membuat gambar itu bagus atau tidak, itu adalah gagasan kita sendiri.

Kenapa Kampret bisa marah kepada Tukiyem? Karena Kampret ‘melihat’ Tukiyem berjalan dengan pria yang lebih gagah dari dirinya. Memang, sepintas situasi ini sangatlah jelas! Karena melihat, maka si Kampret marah. Kalau saja Kampret tidak melihat, tentu saja kampret tidak akan marah. Apabila masalah ini tidak ditelusuri secara mendalam, maka mata yang melihatlah yang menjadi sebab kemarahan tersebut. Karena mata melihat pemandangan yang tidak diinginkan, maka perasaan tidak senang muncul. Karena perasaan yang tidak senang ini besar dan ada keberanian untuk mengungkapkannya, maka timbullah kemarahan. Sebaliknya, kalau saja yang melihat itu adalah Tukiyem, dan Tukiyem tidak punya cukup keberanian untuk mengungkapkan ketidak senangannya, maka Tukiyem cukup hanya bersedih saja.

Kampret: Kalau mata tidak bisa disebut sebagai penyebab kemarahan, terus apa yang menyebabkan kemarahan itu sendiri Mbah? Apakah perasaan tidak senang ini lagi yang menjadi sebab dari kemarahan? Bukankah rasa tidak senang itu harus punya pijakan yang jelas untuk bisa muncul?

Mangun:  Benar sekali. Mata adalah pijakan rasa tidak senang ini. Tapi, perlu kalian ketahui bahwa ada sesuatu diantara mata dan perasaan yang tidak senang ini. Yaitu ‘Gagasan’! kenapa kamu marah saat Tukiyem jalan dengan laki-laki lain di siang hari? Dan kenapa kamu senang melihat Tukiyem berdandan cantik di pagi hari pada hari yang sama? Apakah ada yang salah dengan matamu?

Kita sering kali dibuat pusing oleh gagasan-gagasan kita sendiri, oleh persepsi-persepsi kita sendiri. Sering kali kita membuat analisa mulai yang cerdas sampai analisa yang tidak bermutu. Keduanya sama saja berdasarkan satu kata, yaitu ‘Apabila’. Kalian tidak perlu belajar sastra yang tinggi untuk mengetahui bahwa sejatinya, kata ‘Apabila’ itu selalu merujuk pada keadaan yang ‘Tidak Nyata’. Setiap kalian menyusun sebuah kalimat, di mana kalimat tersebut diawali dengan kata ‘Apabila’, maka jelaslah kalimat itu hanyalah ilustrasi belaka. Bukan kejadian yang sebenarnya. Tidak peduli secanggih apapun pikiran kalian, dia hanyalah gagasan, hanya rekayasa, hanya proyeksi, dia tetap tidak nyata.

Kenapa kamu tidak senang melihat Tukiyem berjalan dengan laki-laki yang lebih gagah? Karena kamu punya begitu banyak gagasan! Misalnya, kamu kawatir kalau Tukiyem akan berpaling ke laki-laki yang bersamanya tadi. Nah, awal mulanya hanya bentuk kekawatiran yang sangat sederhana, tapi pikiranmu tidak mau berhenti hanya disitu. Dia terus berputar menyajikan drama mini seri dengan judul ‘Apabila’. Baik yang bertema ‘Pro’ ataupun ‘Kontra’. Yang konyol lagi, perjalanan pikiranmu yang ruwet itu berawal dari yang sederhana. Kamu ingin ganjalan itu cepat selesai. Sehingga kamu melakukan daya dan upaya untuk menyusun analisa yang panjang. Sehingga kamu sanggup membuat drama seri yang ujung-ujungnya ilustrasi dan tidak nyata.

Coba perhatikan baik-baik! Mata, hanya menyajikan gambar berupa ‘Seorang perempuan cantik yang berjalan dengan seorang pria yang gagah’. Dari gambar yang sederhana ini, kamu olah menjadi drama yang panjang dengan begitu banyak kemungkinan. Dan dari semua cerita yang panjang itu, yang kamu buat sendiri, selalu berakhir pada dirimu sendiri yang ‘Kalah’, atau yang ‘dirugikan’. Diujung cerita itu, kamu menjadi sosok yang selalu menderita. Nah, karena kamu tidak mau menderita, maka muncullah kemarahan itu.

Kampret: Ha ha ha………. Aku jadi malu Mbah.

Robert:    Terus, bagaimana cara menghentikannya Mbah? Agar situasi yang demikian tidak terjadi?

Mangun:  Hiduplah dengan berpegang pada kebenaran, pada realitas. Bukan pada gagasan kosong. Saat kalian menggantungkan hidup kalian pada gagasan-gagasan kosong seperti itu, maka siap-siaplah untuk berenang dalam sungai penderitaan di sisa hidupmu.

Robert:    Maaf Mbah, saya hidup dan dibesarkan di dunia yang berbeda. Kami terbiasa hidup dengan proyeksi ke depan. Sehingga kami bisa membangun kehidupan secara terencana. Apabila kita hidup dalam realitas, seperti yang Mbah Mangun sarankan, bagaimana mungkin kita bisa menata kehidupan kita di masa mendatang?

Mangun:  Bagus sekali. Menurut saya, sebenarnya kita itu selalu hidup di dalam kegelapan. Bukankah sudah terlalu sering saya mencoba untuk menjelaskan pada kalian bertiga kalau hidup kita itu sejatinya diliputi oleh ketidak-pastian? Ketidak-tahuan akan masa depan itulah yang saya sebut sebagai kegelapan. Tapi begitu juga watak pikiran kita, yang tidak mau diam dalam kegelapan. Dia terus bergerak, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita selalu ingin tahu apa yang terjadi di luar sana. Keadaan inilah yang membuat perusahaan yang bergerak di sektor media tidak akan pernah bangkrut, he he he…

Segala macam usaha yang kita lakukan untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok pagi, itu tidak keliru. Tapi kita harus tetap menyebutnya sebagai ‘Kemungkinan’ bukan sebuah ‘Kepastian’. Demikian juga teori-teori yang berlaku di muka bumi ini, yang terkadang bisa kita sebut sebagai kepastian. Tapi menurut saya, tidaklah benar-benar pasti. Semuanya hanya punya pola ‘kecenderungan’ (laten). Biji mangga, punya kecenderungan untuk tumbuh menjadi pohon mangga. Saat biji ini kita rebus, kecenderungan tumbuhnya akan hilang.

Sekali lagi, membuat ramalan dan proyeksi masa depan itu tidaklah keliru. Untuk menentukan alur dan jalan yang akan kamu lalui. Juga tidak keliru saat kalian menciptakan gagasan dan ide-ide yang ideal sebagai cita-cita yang nantinya kalian tuju. Semuanya itu akan keliru saat kalian merubah ‘Ramalan dan Proyeksi’ menjadi kebenaran yang akan terjadi. Ketika hal ini kamu lakukan, maka kamu bisa menjadi orang yang sangat menjengkelkan. Kamu akan menjadi orang yang kaku, kamu akan sulit menerima gagasan orang lain. Karena kamu melihat kebenaran yang semu tadi. Dan pada saat waktunya nanti tiba, di mana situasi yang terjadi tidak sesuai dengan situasi yang kamu ramalkan, maka kamu akan mengalami kesedihan yang mendalam.

Inilah yang sering terjadi, bukan hanya penyesalan yang muncul. Tapi kesedihan yang sulit sekali diobati. Apabila kalian punya cukup kekuatan, maka kalian akan mencoba lari dari kesedihan ini. Selanjutnya bisa ditebak, muncullah kemarahan. Kemarahan ini akan menutupi semua realitas yang ada. Bahkan jalan dan cerita panjang yang sudah kamu laluipun bisa kabur. Kalian akan mencoba mencari kekeliruan yang berakibat gagalnya cita-cita ini. Dan biasanya kalian mencari-cari kesalahan ini di luar diri kalian sendiri. Mulailah pencarian baru, yaitu mencari sasaran untuk menerima tumpahan kemarahan ini. Siapakah orang yang bertanggung jawab atas kegagalan ini? Bisa orang di sekelilingmu yang selama ini mendukungmu, bisa situasi dan kondisi lingkungan, bahkan alam yang berjalan sesuai ‘pola’-nya sendiri bisa kamu salahkan.

Robert:    Cukup terang Mbah, ha ha ha…

Tukiyem: Bisa dilanjutkan ke indera berikutnya Mbah?

Mangun:  Baiklah, berikutnya adalah indera ‘Telinga’. Telinga menangkap suara-suara. Apabila telinga ini menangkap suara-suara yang sumbang, kamu tidak akan senang. Apabila telinga ini menangkap suara-suara yang merdu, kalian akan senang. Suara merdu adalah suara yang ingin kalian dengarkan. Suara sumbang adalah suara yang kalian tidak ingin dengarkan.

Kondisi inilah yang sering kali bisa mengganggu pendengaranmu. Kalian mulai membuat seleksi apa saja yang ingin kalian dengarkan dan apa saja yang tidak ingin kalian dengarkan. Semua suara yang punya nada memuji, sangatlah menyenangkan untuk didengarkan dan semua nada celaan atau kritikan bisa menyakitkan untuk didengarkan.

Kalian bisa marah mendengarkan sindiran dan kritikan yang tajam. Sehingga kalianpun selalu berkumpul dan berkawan dengan orang-orang yang menyuarakan keindahan tentang dirimu. Apabila ini kalian lakukan dalam waktu yang lama, maka kalian akan rugi sendiri. Kerugian yang terbesar adalah, kamu keliru menilai dirimu sendiri. Karena suara yang kamu dengarkan itu bersumber dari satu sisi. Telingamu tidak lagi mendengarkan kebenaran, yang datang dari dua sisi. Yaitu tentang kebaikanmu, sekaligus keburukanmu. Telingamu akan terbiasa mendengarkan suara-suara  yang kamu inginkan saja.

Tukiyem: Kalau suara sumbang adalah sebab dari kemarahan, harusnya menghindarkan diri dari suara-suara sumbang itu tidak keliru Mbah.

Mangun:  Sepintas lalu memang cara ini tidak keliru. Untuk menghindarkan diri dari kemarahan, kalian berlindung di bawah kenyamanan semu. Mengapa saya menyebutnya semu? Karena dia bukanlah realitas. Seperti yang saya sebutkan tadi, dalam jangka waktu yang lama dia akan merugikan dirimu sendiri. Karena suara-suara merdu yang kalian dengarkan bukanlah suara-suara yang sebenarnya. Suara-suara itu adalah suara-suara yang kalian pilih sendiri untuk didengarkan.

Tukiyem: Kerugian semacam apa itu Mbah?

Mangun:  Rugi karena kamu tidak bisa mendengarkan kebenaran dan realitas yang sebenarnya.

Tukiyem: Bisa minta diberikan ilustrasi tentang suara yang benar dan realis Mbah?

Mangun:  Begini, saat kamu berada pada zona nyaman, yaitu di lingkungan kerabat dekatmu, kamu tidak akan pernah mendengarkan kekurangan-kekuranganmu. Kalau kamu tidak pernah mendengarkan kekuranganmu, bukan berarti kamu tidak memiliki kekurangan bukan? Hampir semua orang memiliki kelebihan sekaligus memiliki kekurangan. Idealnya bagi kita yang ingin berkembang adalah, terus meningkatkan kelebihan dan menghilangkan kekurangan dan keburukan kita.

Hanya orang tertentu, yang mempunyai ketajaman batinlah yang bisa mengoreksi dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Bagi orang kebanyakan, melihat ke dalam dirinya sendiri adalah pekerjaan yang tidak mudah. Jadi menurut saya, sungguh beruntung kalau saja ada orang lain yang mau mengkritik diri kita.

Tukiyem: Benar mbah, introspeksi adalah pekerjaan yang merepotkan. Banyak orang menyarankan introspeksi, tapi mereka sendiri mengalami kesulitan untuk melihat kekurangan diri sendiri.

Mangun:  Bukankah lebih enak kalau ada orang lain yang menunjukkan kekuranganmu? Daripada kesulitan mencari sendiri kekurangan tentang dirimu, menurut saya lebih mudah kalau diberitahu oleh orang lain bukan? Selanjutnya, kamu tinggal meneliti lebih seksama mengenai kekuranganmu itu. Kemudian, kamu bisa langsung melakukan perubahan-perubahan. Harusnya kita berterima kasih pada orang yang mengkritik kita. Karena orang yang mengkritik kita, secara tidak langsung membantu kita berkembang, Maka harusnya kita beri hadiah mereka itu, he he he….. Seperti Microsoft, akan membayar orang, yang bisa menunjukkan kelemahannya.

Mengapa banyak di antara kita yang selalu marah dan benci saat disebut dirinya ‘bodoh’? Bukankah penilaian bodoh terhadap diri kita itu bisa kita jadikan sebagai sinyal untuk belajar lebih giat? Mungkin kalian menganggap sebutan bodoh itu sebagai penghinaan. Sekarang saya tanya, mungkinkah ada orang yang menyebutmu bodoh tanpa alasan tertentu?

Tukiyem: Tidak mungkin Mbah.

Mangun:  Seandainya ada orang yang tanpa alasan tertentu menyebutmu bodoh, kalau dia tidak sedang bercanda, berarti orang yang bersangkutan tergolong orang yang tidak jelas. Dan kalian tentu tidak usah repot-repot marah dengan orang yang tidak jelas bukan?

Keuntungan lain saat disebut bodoh adalah kejelasan tentang kekurangan kalian pada bidang-bidang tertentu secara spesifik. Saat saya menyebut diri kalian bodoh, tentu tidak bodoh dalam segala hal. Melainkan spesifik pada apa yang sedang kita diskusikan. Dalam urusan mencari uang, tentu saya lebih bodoh dibandingkan Robert, tapi dalam urusan akal-akalan, saya pasti menang, he he he….

Tukiyem: Berarti kita terima saja baik itu pujian atau celaan orang terhadap diri kita Mbah?

Mangun:  Bahasamu ‘terima saja’, itu mengindikasikan sebuah kepasrahan. Saya kurang setuju kalau demikian. Yang benar adalah pahamilah pujian dan celaan sebagai informasi saja. Ingat sekali lagi, kalian sudah harus selalu waspada mengenai gagasan-gagasan liar yang kita sudah bahas tadi.

Jadikan suara-suara itu sebagai informasi belaka, jangan biarkan suara ini mempengaruhi perasaanmu, apalagi menghasut dan menyeretmu menjadi kemarahan atau kesedihan. Jadikan suara itu sebagai cermin dalam menilai dirimu yang sejati.

Kalau suara itu adalah pujian yang merdu, terima saja sebagai informasi. Anggap saja suara itu sebagai hasil jerih payah kalian yang tidak perlu dibanggakan. Karena memang tidak ada yang luar biasa, pujian itu muncul, karena kalian sudah bersusah-payah dalam mengusahakannya. Kalau suara itu adalah celaan yang menyakitkan, juga terima saja sebagai informasi. Anggap saja suara itu sebagai ganjaran dari kemalasan kalian.

Ingat, mengetahui kebenaran tentang diri kalian, itu sangatlah penting. Kalian bisa percaya diri sekaligus rendah hati. Karena kalian tidak menilai diri kalian terlalu tinggi atau terlalu rendah. Inilah yang saya sering sebut sebagai ‘Mengetahui Jati Diri’.

Tukiyem: Dengan memahami suara sebagai informasi belaka dan waspada terhadap gagasan-gagasan liar, kita bisa terbebas dari kemarahan yang bersumber dari telinga. Bahkan kita bisa mengetahui jati diri kita, dari informasi tersebut. Kira-kira begitu yang saya tangkap Mbah.

Mangun:  Weeh… cerdas tenan kowe nduk.

Tukiyem: Saya sedang dipuji Mbah?

Mangun:  Tidak! Saya hanya sekedar menyenangkan kamu, agar tidak mengantuk, he he he….

Kampret: Jangan mengantuk dulu Yem.

Tukiyem: Ya tidaklah Kang, kan masih panjang to Mbah persoalannya?

Robert:    Kalau tidak salah, sekarang hidung adalah indera berikutnya yang harus dibahas, karena hidung juga termasuk indera kita ya Mbah?

Mangun:  Ya, Indera Hidung menurut saya adalah indera yang tidak terlalu dominan dalam memicu kemarahan. Karena hidung hanya berhubungan dengan bau-bauan yang mudah sekali hilang dibawa angin. Hidung kalian selalu mendambakan bau-bauan yang harum. Sebaliknya menolak bau-bau yang busuk.

Apabila kita mencium bau busuk, biasanya reaksi awal yang mudah kita lihat dari situasi ini adalah ketidak nyamanan. Ketidak nyamanan yang bertahan agak lama-lah yang kemudian memicu kemarahan. Karena bau-bauan itu mudah hilang dibawa angin, maka kemarahan akibat bau-bauan ini jarang muncul dan cepat mereda.

Kampret: Apakah gagasan kita tidak dipengaruhi oleh penciuman ini Mbah?

Mangun:  Dalam kehidupan sehari-hari, tidak terlalu. Kecuali orang yang bersangkutan tergolong orang yang terlalu cerdas.

Tukiyem: Terlalu cerdas?

Mangun:  Ya, terlalu cerdas! Orang jenis ini, apa saja bisa dipikirkan. Termasuk persoalan-persoalan yang tidak penting. Dia bisa tidak tidur semalaman hanya gara-gara parfumnya habis. Takut badannya bau saat perkumpulan ibu-ibu PKK.

Kampret: Ha ha ha… itu kamu Yem!

Tukiyem: Berarti, saya cerdas!

Kampret: Ya,… kamu orang paling cerdas di RT-02

Mangun:  Hus!…. jangan pada ngelantur.

Kampret: Dari pada ngantuk dia Mbah.

Mangun:  Oh… ya, benar juga. Begini, dampak indera hidung ini, yang paling jelas adalah saat menimpa orang yang sedang konsentrasi. Bau-bauan yang menyengat, bisa menjadi gangguan yang hebat bagi orang-orang yang sedang berlatih konsentrasi. Dalam hal ini, bukan hanya  bau yang busuk saja yang bisa mengganggu, bahkan bau yang sedap sekalipun, bisa sangat mengganggu. Nah, apabila konsentrasi yang sedang dilakukannya tidak terlalu penting, dia bisa saja menundanya di lain waktu. Tapi apabila orang ini benar-benar ingin konsentrasi, maka dia bisa benar-benar marah.

Kampret: Dengar sendiri to Yem?… lain kali kalau masak, terutama menggoreng bawang, itu nunggu saya selesai meditasi.

Tukiyem: Bakar kemenyan saja di kamar, kan beres. Pasti kalah baunya. Kalau menunggu kamu meditasi, pekerjaanku tidak bakalan selesai.

Mangun:  Ha ha ha… ada benarnya juga Tukiyem. Itu benar-benar cara yang cerdas. Atau cuci mukamu dengan minyak angin sekalian! Biar ‘semriwing’.

Tukiyem: Ha ha ha… setuju Mbah! Besok tak beli minyak angin satu liter. Dari pada bau kemenyan, dikira memelihara demit sama tetangga nanti.

Mangun:  Sudah-sudah,… jangan ngelantur. Sampai mana tadi?

Robert:    Indera Lidah Mbah!

Mangun:  Indera lidah atau pengecapan selalu berhubungan dengan cita-rasa makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap harinya. Harusnya kalian sudah memahaminya dengan baik. Cita-rasa yang enak-enaklah, yang selalu diinginkan oleh lidah kita. Sebaliknya cita-rasa yang tidak enak, adalah cita-rasa yang selalu kita hindari. Terus bagaimana cita-rasa ini bisa berubah menjadi sumber kemarahan?

Lagi-lagi gagasanlah yang mendorong kemarahan. Biasanya gagasan ini memunculkan kesan-kesan atau kenangan-kenangan atas makanan dan minuman yang pernah dirasakan oleh lidah kita. Kesan-kesan ini kemudian menjadi landasan dalam penilaian pada makanan dan minuman yang kita konsumsi untuk dibandingkan. Kesan-kesan ini pula yang mendorong selera memilih jenis makanan dan minuman yang akan kita konsumsi.

Kalian semua tentu pernah punya keinginan atau angan-angan ingin merasakan lagi makanan atau minuman yang enak, yang sudah pernah kalian konsumsi. Lalu mulailah kalian merancangnya. Apakah memasak sendiri atau membelinya di warung. Saat rasa makanan yang sekarang kalian rasakan itu tidak enak, tidak sesuai dengan rasa yang ada dalam ingatanmu, maka kalian akan kecewa. Saat kekecewaan kalian itu besar, maka kemarahan  akan muncul.

Kerusakan organ yang berpengaruh pada rasa, juga bisa menyebabkan kemarahan. Juga keadaan sakit pada mulut atau tenggorokan. Walaupun bukan lagi lidah yang menjadi penyebab langsungnya, tapi gagasan kalianlah yang menghubungkannya. Misalnya saja orang yang terkena serangan ‘Sariawan’, panas dalam, sakit gigi, hampir semua masakan tidak ada yang enak. Dan saat kalian mencoba minum obat, tujuannya bukan kesembuhan penyakitnya, tapi alasannya bisa aneh, yaitu biar kalian bisa makan enak.

Dalam memicu kemarahan, indera lidah tidaklah begitu besar berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari kita. Bahkan sering diabaikan bahwa lidah bisa menjadi sebab dari sebuah masalah. Saat orang punya kepentingan lain yang lebih besar, kepentingan lidah dalam hal cita-rasa bisa dinomor duakan. Misalnya saat kalian sakit. Sepait apapun rasanya obat, kalian tetap akan mengkonsumsinya.

Kampret: Berarti tidak banyak yang bisa kita gali dari indera lidah ini ya Mbah, karena pengaruhnya tidak begitu besar.

Mangun:  Ya, tapi saat kalian sudah mulai belajar batin, dimana kesibukan badan sudah tidak banyak, indera ini juga memiliki kadar yang sama dengan indera yang lain.

Kampret: Contohnya seperti apa Mbah?

Mangun:  Nanti saja, kalau kamu sudah mulai belajar tentang itu. Biar kamu tidak bingung.

Tukiyem: Setuju mbah, terlalu banyak informasi bisa membuat orang bingung. Nanti otakku bisa macet di tengah-tengah diskusi. Bisa dilanjutkan ke bahasan berikutnya Mbah? Saya rasa, Kulit atau sentuhan adalah indera yang berikutnya.

Mangun:  Baiklah, untuk indera sentuhan, kita akan menyebutnya indera fisik saja. Karena pada dasarnya, indera ini meliputi fisik seluruh badan kita. Termasuk mata, telinga dan lidah itu sendiri. Namun bedanya, indera sentuhan ini merujuk pada fisiknya. Misalnya telinga, ada yang sering bicara dengan ungkapan, ‘Wah sindiran pak Pandi membuat telinga saya sakit’. Tentu saja maksudnya sakit di sini, tidaklah sama seperti telinga yang ditarik atau dipukul.

Untuk mempersingkat waktu, saya tidak akan membahas sentuhan-sentuhan fisik yang menyenangkan. Karena kita sejak sore sudah membahas kesenangan-kesenangan sebagai sebab kemarahan.

Robert:    Setuju Mbah, alurnya tentu akan sama. Apabila kita mendambakan sentuhan-sentuhan fisik yang menyenangkan dan tidak memperolehnya, maka kita akan kecewa dan marah.

Mangun:  Benar sekali, jadi lebih baik kita akan membahas sentuhan-sentuhan yang menyakitkan. Karena khusus indera ini, punya dampak langsung yang memicu kemarahan. Bahkan seluruh anggota badan kita bisa menjadi sumber kemarahan.

Seluruh anggota badan kita kecuali rambut dan kuku, sangat mudah untuk disakiti. Kalau kita mau mengamati dan meneliti lebih serius lagi, maka seluruh anggota badan kita, termasuk yang di dalam tubuh ini adalah sumber penyakit. Jadi, sungguh konyol kalau ada orang yang selalu mengeluhkan rasa sakit di badannya. Karena memang badan kita itu terbentuk dari bahan yang punya karakteristik  demikian.

Robert:    Bukankah rasa sakit itu muncul karena ada pengaruh dari luar Mbah? Misalnya saja tangan dicubit, kalau tidak dicubit pasti tidak sakit. Organ tubuh kita terserang virus atau jenis penyakit lainnya, maka kita akan merasakan sakit. Menurut saya sumber penyakit itu ada di luar anggota badan kita Mbah.

Mangun:  Bisakah kamu duduk dalam posisi tertentu dalam waktu yang lama dan tidak merasakan kesakitan? Setiap kali orang selalu merubah posisi duduknya, atau menggerakkan anggota badan tertentu, kalau tidak, dia akan merasakan ‘pegal’ atau kesemutan di daerah tertentu. Pada kondisi ini, apakah kamu melihat ada benda lain yang menyakiti anggota badanmu?

Robert:    Benar juga ya Mbah, tapi saya agak kesulitan memahami realitas dan kenyataan bahwa anggota badan kita adalah sumber sakit.

Mangun:  Sekalipun ada benda luar yang menyakiti badan kita, tetap saja harus ada kontak dengan badan kita bukan? Jadi, secara langsung ataupun tidak langsung, seluruh anggota badan kita ini bisa menimbulkan kesakitan. Saya tidak akan memaksamu untuk percaya, karena sama sekali tidak penting. Apakah kamu percaya atau tidak percaya, kebenaran tetaplah kebenaran. Jadi sudah jelas, kebenaran ini tidak ada hubungannya dengan kepercayaanmu itu Robert.

Robert:    Berarti badan sebagai sumber penyakit adalah kebenaran yang tidak bisa dibantah Mbah?

Mangun:  Kalau ada pernyataan yang bisa dibantah, berarti esensi kebenarannya hilang. Dia tidak lagi menjadi kebenaran. Kamu boleh mencurahkan pikiran sampai membuat pesawat terbang sekalipun, untuk mengakali hukum gravitasi bumi. Tapi kamu tidak bisa melenyapkan gravitasi itu sendiri. Itulah kebenaran menurut saya.

Kamu boleh menipu dirimu sendiri dengan berbagai macam cara, tentang batu akik yang paling ampuh, yang bisa menyembuhkan penyakit. Tentang obat yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Tentang makhluk yang bisa menolong kamu bebas dari rasa sakit. Atau segala macam omong kosong tentang perlambatan penuaan. Tapi kamu tidak akan mungkin bisa memisahkan sakit dan kematian, dengan tubuhmu di dalam kehidupanmu.

Robert:    Berarti, semua daya dan upaya yang kita lakukan untuk mengatasi kesakitan tidak ada gunanya ya Mbah?

Mangun:  Tentu saja ada! Apakah dia hanya sekedar mengurangi rasa sakit, atau bahkan menyembuhkan sakit itu sendiri. Di sinilah peran para ahli kesehatan dari jaman ke jaman. Yang saya maksud adalah kondisi batin yang sedih dan menderita saat sakit. Itulah yang tidak diperlukan! Kalau sakit, ya cari obat agar sakitnya sembuh. Bukan meratapi sakit itu, sehingga menimbulkan kebingungan. Dampaknya kita bisa mengambil langkah-langkah yang keliru. Misalnya, saat kita sakit kepala karena masuk angin, harusnya kita mengisi perut saja sudah beres. Tidak perlu minum obat sakit kepala. Saat kita kebingungan, kita tidak mungkin tahu penyebab sakit kepala bukan?

Robert:    Sekalipun kita sakit, pikiran kita harus tetap waras. Sehingga kita bisa mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi rasa sakit. Agar kita tidak mudah kebingungan saat sakit, kita harus memahami realitas dari badan dan sakit. Kira-kira itu yang bisa saya tangkap Mbah.

Mangun:  Betul sekali, tengah malam tadi saya sudah tekankan untuk selalu berpegang pada kebenaran. Saat kamu melepaskan kebenaran, maka penderitaan pasti akan mengikutimu. Demikian juga memahami sakit di sekujur tubuh ini. Kalau anggota badanmu sakit, pahami itu sebagai kebenaran. Jangan biarkan kesakitan pada tubuhmu itu juga menyakiti batinmu. Memang agak aneh, sebagian besar orang memahami bahwa badan yang sehat adalah keadaan yang normal, sedangkan badan sakit sebagai keadaan yang tidak normal. Sehingga sebagian besar orang-orang tadi selalu mengeluhkan badan yang sakit. Kalau orang-orang tadi menemukan gejala sakit pada tubuhnya, mereka menyebutnya ‘ada yang tidak beres dengan badannya’. he he he…. Ada-ada saja. Badan kita itu kan, memang selalu sakit!

Orang yang punya pandangan keliru tersebut, akan sangat sedih pada saat dirundung sakit. Ketika orang-orang ini mulai emosi karena ingin cepat sembuh, mereka pun bisa berbuat yang aneh-aneh. Bisa dikatakan mereka kehilangan akal warasnya karena kombinasi antara perasaan takut dan emosi. Mereka bisa menyalahkan siapa saja, bahkan apa saja yang terhubung pada dirinya. Mereka bisa berkata bahwa dirinya sedang mendapatkan cobaan. Atau hal-hal aneh lainnya. Dan mereka bisa melakukan tindakan-tindakan aneh, seperti…

Tukiyem: Mereka bisa memindahkan batu akik dari jari kanan ke jari kiri agar bisa cepat sembuh!

Kampret: Ha ha ha,…. Itu keterlaluan bingungnya Yem!

Mangun:  Ada lagi yang lucu.

Robert:    Apa Mbah?

Mangun:  Ada yang sudah emosi duluan sebelum sakit!

Tukiyem: Mana mungkin Mbah? Emosi kok di ‘DP’ dulu, kayak mau kredit kendaraan saja.

Mangun:  Lah,… jangan salah Yem, paling-paling kamu juga pernah. Pada saat kamu diajak ngebut sama Kampret, kamu bisa marah bukan?

Tukiyem: He he he,… Itu baik atau buruk Mbah?

Mangun:  Tergantung! Kalau marahnya terlalu sampai melempar HP ke kepala suamimu, ya buruk to?

Tukiyem: Berarti, sama saja seperti orang-orang yang terlalu memikirkan kesehatan ya Mbah. Orang itu bisa ngamuk saat melihat orang merokok di tempat umum.

Kampret: Kalau Itu, keterlaluan yang merokok Yem. Masak di tempat umum dia merokok. Harusnya di tempat yang tidak umum.

Mangun:  Hus!… malah pada ngelantur. Sampai mana tadi?

Robert:    Orang bisa marah, karena kawatir dirinya bisa sakit, atau disakiti. Ini terjadi, karena orang yang bersangkutan memiliki pengetahuan mengenai sebab-sebab penyakit. Bukankah itu bagus mbah? Semacam tindakan pencegahan atau peningkatan kewaspadaan?

Mangun:  Tentu saja bagus, tapi kewaspadaan itu hanya untuk berjaga-jaga bukan? Tidak perlu sampai marah. Saat kemarahan muncul itulah, yang kurang baik. Karena bisa menimbulkan masalah baru. Saat kamu melihat langit yang mendung, maka kamu harus membawa serta payung saat berangkat bekerja. Tapi kamu merasa kerepotan membawa-bawa payung dalam perjalanan. Akibatnya, kamu jengkel pada mendung dan hujan yang akan turun. Konflik semacam inilah yang tidak mutu!

Robert:    Paham Mbah.

Tukiyem: Berarti sudah tuntas penelitian kita mengenai kemarahan, yang muncul dari ke lima indera kita.

Mangun:  Belum!

Robert:    Ada lagi Mbah?

Mangun:  Kalian mungkin hanya mengenal lima indera. Tapi dalam memahami kebatinan. Ada satu lagi indera, dan menurut saya, ini adalah yang paling penting. Yaitu Indera Pikiran.

Robert:    Kenapa pikiran bisa menjadi indera Mbah? Apakah pikiran juga bisa bersentuhan dengan obyek?

Mangun:  Menurut saya, pikiran disebut sebagai indera karena pikiran juga bisa kontak. Seperti yang saya sebutkan tadi, khusus bagi kita yang belajar batin. Dalam kehidupan orang kebanyakan, yang tidak mementingkan faktor batin, mungkin ini tidak begitu penting. Tapi bagi kalian yang belajar batin, sangat penting memahami pikiranmu sendiri. Baik saat olah batin maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Robert:    Kalau mata, kontak dengan benda. Kalau telinga, kontak dengan suara. Dan seterusnya, kalau pikiran kontak dengan apa Mbah?

Mangun:  Pikiran kontak dengan ingatan. Mungkin sekarang orang lebih sering menyebutnya dengan memori. Yang saya pahami, kelima indera yang sudah kita bahas sejak sore tadi, lebih bersifat pasif. Seolah-olah ke lima indera tadi lebih banyak diam dan menerima sinyal saja, kemudian terjadilah kontak.

Kampret: Seperti orang yang sedang menghemat pulsa, lebih sering menerima telpon. Tapi tidak mau telpon.

Mangun:  He he he…….ya, bisa juga demikian. Orang yang belajar batin, dia bisa memahaminya lebih jelas. Pikiran selalu mencari-cari obyek untuk dipikirkan. Saat semua indera capek dan bosan, pikiran ini mulai menelusuri kenangan-kenangan masa lalu. Atau bisa merancang masa depan. Orang menyebutnya ‘Lamunan’.

Tukiyem: Apakah pikiran ini bisa membuat orang marah secara langsung atau tidak langsung Mbah?

Mangun:  Tentu saja! Bahkan pikiranmu bisa membuatmu marah secara langsung. Ketika kamu duduk seorang diri, secara naluri matamu mencoba menangkap sesuatu, atau telingamu mencoba mendengarkan sesuatu. Di saat ke lima inderamu tidak menemukan obyek yang menarik pikiranmu, maka pikiranmu mencoba mengingat beberapa kejadian. Bisa yang menarik dan menyenangkan, bisa juga yang menyedihkan. Di saat pikiranmu mengingat kejadian yang tidak menyenangkan inilah kamu bisa marah.

Misalnya saja kamu sedang duduk sendirian di rumah menunggu suamimu yang belum juga pulang di malam hari. Kamu mencoba untuk bersabar, dengan menyibukkan diri, mungkin nonton TV atau mendengarkan musik. Pada saat kamu sudah mulai bosan sendirian, pikiranmu mulai melayang-layang. Karena situasi malam yang sunyi, kamu mulai tidak nyaman, dan ketakutan mulai membayangi. Perasaan takut inilah yang menyeretmu ke mana-mana. Bayangan horor, mulai dari bayangan tindak kejahatan di malam hari, sampai pada bayangan hantu pocong mulai berkelebatan. Pada saat yang sama, perasaan benci dan marah campur aduk menjadi satu. Marahnya bukan kepada pikiranmu yang sedang menyajikan tontonan horor, tapi marah pada suamimu yang belum datang. Karena menurutmu, suamimu-lah penyebab semua kejadian horor yang belum terjadi itu.

Tukiyem: Kalau contohnya mbah Mangun itu benar-benar terjadi bagaimana Mbah?

Mangun:  Saya tidak tahu!… itu kan baru contoh?

Tukiyem: Iya, seandainya benar-benar terjadi?

Mangun:  Itu kan seumpama!

Tukiyem: Iya,… seumpama benar Mbah?…. ayo mbah,… apa yang harus saya lakukan?

Robert:    Ha ha ha……. Kayaknya contoh Mbah Mangun itu sudah pernah terjadi Mbah.

Kampret: Sorry sayangku, kalau benar-benar terjadi, kamu tidur saja. Kalau ada hantu, kan pasti tidak lihat, karena tidur. Kalau ada orang jahat, kamu pura-pura tidur saja. Dia mau maling apa saja, biarkan saja! Kamu tetap pura-pura tidur!

Tukiyem: Kalau yang di curi itu aku?

Kampret: Berarti saat aku pulang, tidak ada yang membukakan pintu.

Mangun:  Sudah-sudah,… nanti masalah ketakutan kita bahas di lain waktu saja.

Tukiyem: Kapan Mbah?

Mangun:  Besok Jum’at Kliwon saja.

Robert:    Jum’at Kliwon itu kapan Mbah?

Mangun:  Ya nanti kalau pas harinya Jum’at ketemu pasaran Kliwon!

Kampret: Kalau sekarang itu Rebo Kliwon, berarti kira-kira 30 hari lagi, ya satu bulan lagi Bet.

Mangun:  Sekarang kita lanjutkan lagi. Nah, perilaku pikiran yang selalu saja mencari obyek-obyek untuk dipikirkan, karena fungsinya memang demikian. Kita semua punya daya ingat berbeda-beda, ada yang kuat dan ada yang kurang kuat. Obyek yang diingat juga sama, ada yang menempel di ingatan kita sangat kuat, ada juga yang lemah. Ingatan yang kuat adalah ingatan yang sangat menyenangkan dan ingatan yang sangat menjengkelkan. Dan konyolnya, semua jenis ingatan yang sangat menarik, bisa berubah menjadi menjengkelkan. Jadi kalau dihitung-hitung, lebih banyak ruginya jika kita bermain-main dengan ingatan ini.

Pada saat kita sedang duduk sendirian, biasanya kita mencoba memikirkan apa saja yang sudah kita kerjakan dan yang belum kita kerjakan. Dan biasanya juga, memikirkan apa saja yang belum kita lakukan itu lebih dominan. Tapi, yang lebih sering lagi kita lakukan saat diam tidak ada aktifitas adalah merancang masa depan. Memikirkan apa yang akan kita kerjakan besok pagi.

Aktifitas yang bersifat rutin, juga jarang sekali muncul menjadi topik utama untuk kita pikirkan. Karena rutinitas tidak perlu lagi dirancang. Kegiatan ini sudah biasa dilakukan sehingga dianggap tidak akan terjadi kekeliruan. Sedangkan kegiatan di luar rutinitas, perlu dirancang agar bisa lancar dan tidak terjadi kekeliruan. Pikiran mulai menyodorkan berbagai macam pertanyaan yang seringkali diawali dengan ‘Bagaimana jika…’. Dan ‘Apa saja yang perlu dipersiapkan’.

Misalnya saja, besok pagi kita akan bertemu dengan teman lama kita, yang kita anggap sepesial. Dan sesuai rancangan pikiran, kita akan tampil menarik. Kita mulai membuat catatan-catatan, seperti pakaian apa yang cocok. Saat kita mecoba memilih sepatu mana yang cocok, ingatan kita tertuju pada sepatu yang paling bagus yang masih dipinjam teman kita sejak dua tahun yang lalu dan orangnya entah ke mana. Kembali lagi kejengkelan ini muncul. Kejengkelan yang sama, sejak dua tahun yang lalu. Semakin kita mengingatnya, semakin jengkel perasaan kita. Saat kemarahan muncul, hampir semua sepatu yang kita miliki sekarang, tidak ada yang bagus.

Coba kalian bayangkan, selama dua tahun! Kira-kira berapa kali kita sudah dibuat jengkel oleh sepatu itu. Saat kita ditipu orang, setiap kali kita mengingatnya, kita akan jengkel lagi. Kejengkelan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya kualitas kejengkelanya selalu sama. Sama-sama menyakitkan. Kita bahkan berulang kali mengalami kejengkelan atas satu kali kejadian. Saat kita mulai menyadari situasi ini, bukankah wajar kalau kita sebut ini adalah kegilaan? Kalau saja kita itu waras, bagaimana mungkin kita mau membayar hutang yang sudah lunas dua tahun yang lalu, berulang-ulang kali? Kecuali Kampret!

Kampret: ‘Mbok wes ben Mbah’, temannya banyak.

Tukiyem: Mudah-mudahan saya cepat ‘waras’. Jadi ngeri aku Mbah, hutang sekali kok bayarnya berkali-kali. Kalau dicicil sih enak, walaupun ada bungannya. Mbayar ‘kenceng’ kok berkali-kali. Bisa bangkrut nanti.

Mangun:  Sokur, yen pada ngaku!

Robert:    Wah… kok jadi kayak sinetron begini Mbah,… bisa ngantuk aku. Sudah jam tiga loh Mbah, kita harus cepat-cepat selesaikan ini.

Kampret: Dasar ‘Landa’ perhitungan banget sama waktu.

Robert:    Dasar ‘Jawa’ malas!

Mangun:  Bukan malas, tapi toleran dengan waktu. Ha ha ha…

Tukiyem: Wah,… kalau diskusinya tidak selesai bisa kecewa aku. Bisa tak suruh bayar, kopi dan jajannya nanti.

Mangun:  Bagus itu Yem, nanti setor ke saya ya. Sekalian ongkos penginapannya.

Kampret: Ayo Mbah lanjut lagi, kalau Tukiyem ngambek, aku nanti yang paling rugi.

Mangun:  Nah, misalkan saja pikiran kita itu tertuju pada ingatan yang menyenangkan. Kita bisa mengulang kesenangan itu, sama bukan? Tapi saat kita sadar itu hanya kenangan, kita kecewa. Kita ingin yang asli. Kita ingin mengalami kejadian yang menyenangkan tadi. Kalau pikiran kita mulai menghitung biaya, dan kejadian itu sulit diulang, maka kecewalah kita. Kalau pikiran kita mempertimbangkan waktu, dan sulit dipenuhi, kecewa juga kita.

Demikianlah, pikiran kita yang senang maupun yang tidak senang, berkeliaran memikirkan kenangan-kenangan masa lalu. Yang ujung-ujungnya, lebih banyak kecewanya. Membuat kita marah berulang-ulang. Untuk itu, jangan biasakan diri kalian melamun, mengenang masa yang sudah berlalu.

Robert:    Berarti, kita sudah selesai.

Mangun:  Belum! Kita harus menyimpulkan apa yang kita bicarakan semalam suntuk ini, sebagai bahan renungan untuk kalian semua. Sebagai pelajaran yang perlu dipelajari, diteliti lagi dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Supaya pertemuan ini tidak hanya sebagai omong kosong yang tidak berarti. Biasakan itu, meneliti kembali apa saja yang sudah kalian lakukan, untuk diambil sari pelajarannya.

Kamu saja yang membuat kesimpulan Pret! Biarlah saya nanti memberikan ulasan sedikit sebagai penutup.

Kampret: Baik Mbah, semampu saya saja ya Mbah,…

Kemarahan adalah bentuk perasaan yang tidak menyenangkan. Marah bisa mengakibatkan pertengkaran-pertengkaran. Pertengkaran dalam rumah tangga, pertengkaran dalam hidup bermasyarakat, pertengkaran dalam kelompok-kelompok masyarakat, bahkan pertengkaran dalam hidup berbangsa dan bernegara. Dalam skala besar, kemarahan secara bersama-sama, bisa menyulut peperangan antar negara.

Kemarahan yang tidak terkendali bisa mencelakai diri sendiri. Kemarahan bisa membawa kita pada keterpurukan dan penderitaan. Orang-orang yang sering kali marah, menjadi pribadi yang kurang menarik untuk diajak berteman. Bahkan bisa dimusuhi oleh banyak orang. Karena mereka bisa dikatakan sebagai sumber pertengkaran.

Kemarahan selalu bertentangan dengan ketenteraman dan kenyamanan. Apabila ide berumah tangga itu dibangun dengan impian hidup yang tenteram dan nyaman, maka kemarahan yang berkembang di dalam rumah tangga itu bisa menjadi momok bagi kelangsungan rumah tangga tersebut.

Kemarahan memiliki sifat yang panas dan membakar, dia bisa mengobarkan persoalan yang kecil dan sepele menjadi persoalan yang lebih besar. Kemarahan yang didukung gagasan-gagasan ideal, tanpa memiliki landasan realitas yang jelas, menjadi sulit dipadamkan. Kemarahan jenis ini bisa memanipulasi orang lain, untuk bersama-sama mendukungnya. Saat dukungan datang mengalir, maka gagasan-gagasan ideal yang semula hanyalah produk pikiran, berubah menjadi kebenaran ‘semu’.

Yang perlu diwaspadai adalah karakter kemarahan yang menyembunyikan realitas dan kebenaran. Dia seperti selimut yang mengaburkan kebenaran. Seperti kacamata indah yang salah ukuran lensanya. Keindahannya hanya ada di gagasan. Pada saat  mematut di depan cermin, hanya nampak bayangan kabur diri kita. Maka, jelaslah kemarahan adalah suatu bentuk perasaan yang berbahaya. Yang perlu sekali kita waspadai kemunculannya.

Untuk mengetahui kemunculan kemarahan ini, kita bisa mengamati kelima indera kita secara umum dan pikiran kita yang aktif. Dari hasil kontak kelima indera kita, munculah perasaan senang dan tidak senang. Pada saat inilah kemarahan bisa muncul kapan saja. Apabila perasaan senang yang dimunculkan dalam kontak tersebut, maka dambaan akan kesenangan yang terputus karena diganggu, akan menimbulkan kejengkelan. Dan apabila perasaan senang tersebut tidak bisa dipenuhi, juga akan mengakibatkan kejengkelan, kemudian akan berlanjut pada kemarahan. Apabila perasaan tidak senang yang muncul, maka kejengkelan dan kemarahan segera muncul mengikutinya.

Untuk mengatasi masalah ini, kita perlu mengamati kemunculannya dan menganalisa sebab-sebabnya. Dengan berpegang pada realitas dan kebenaran-lah kita meneliti dan membuat analisa. Bukan pada gagasan-gagasan yang belum jelas kebenarannya. Sehingga penyelesaian yang akan kita lakukan adalah penyelesaian yang paling tepat.

Itu saja yang tersisa di kepala saya secara ringkas Mbah.

Mangun:  Baiklah, saya rasa sudah cukup kesimpulannya. Sekarang giliran saya memberikan sedikit ulasan. Mudah-mudahan kalian bertiga masih bisa menahan kantuk di ujung malam ini.

Anak-anakku semua, kalian harus lebih sering melihat diri kalian sendiri bukan hanya pada pantulan cermin saja. Kalian harus sudah mulai sering-sering mawas diri. Kalian harus mulai menyadari kedewasaan kalian. Kalian bukan lagi seorang pemuda, bahkan bukan lagi seorang anak-anak.

Salah satu kerugian orang dewasa adalah, tidak ada lagi yang mau menegur diri kalian. Orang akan segan untuk menegur orang yang sudah dewasa. Hanya orang tualah yang berani menegur diri kalian. Celakanya, jarang sekali orang yang merasa bahwa dirinya sudah tua. Bahkan beberapa di antaranya, takut dirinya disebut orang tua.

Salah satu ciri orang dewasa adalah landasan bertindaknya. Seorang anak, selalu ingin dituruti semua kesenangan-kesenangannya. Tidak peduli apakah waktunya tepat, tidak perduli apakah orang tuanya mampu mewujudkannya. Begitulah seorang anak, bisanya hanya menuntut. Seorang pemuda, nalarnya sudah berkembang. Dia hidup dalam penilaian-penilaian. Landasan bertindaknya selalu mengedepankan kebenaran. Dia tidak senang melihat orang yang salah. Kalian yang sudah dewasa, harusnya sudah mulai mengurangi kebiasaan seorang pemuda ini. Tidak lagi mempertentangkan salah dan benar. Kebenaran hanya perlu kalian pegang untuk memberikan arah pada hidup kalian, tidak perlu lagi dipertentangkan. Bertindaklah dengan landasan ‘Patut dan Tidak Patut’. Mulailah belajar memahami situasi. Ayam itu sudah biasa berkokok di malam hari, tapi kalau jamnya tidak tepat, bisa membingungkan orang-orang di kampung. Nah, nanti kalau kalian sudah tua, bertindaklah dengan landasan kebijaksanaan.

Realitas dan kebenaran yang harus kalian pegang, harus kalian kembangkan sendiri. Lihatlah dunia di sekeliling kalian dengan lebih teliti dan seksama. Kebenaran tentang air yang mengalir dari dataran yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Kebenaran tentang gelap dan terang di malam dan siang hari. Sesuaikan dirimu pada kebenaran-kebenaran itu. Bukan sebaliknya, menuruti ide dan gagasan tanpa menyelidiki kebenarannya. Janganlah berharap kambing bisa sekuat dan secepat kuda. Harapan-harapan yang tidak berdasar pada realitas dan kebenaran itu hanya akan membuatmu menderita.

Tole, kemarahan yang kita bahas tadi malam, harus benar-benar kalian renungkan. Kalian sudah tidak muda lagi. Untuk anak muda, kemarahan memang harus dikendalikan agar tidak membakar. Tapi untuk kalian, pengendalian diri atas kemarahan sudah harus dikurangi. Caranya adalah seperti yang kita bahas tadi malam. Selidiki kemunculannya, selidiki sebab-sebab terdekat dan sebab-sebab yang terkait dengannya. Maka akan muncul kebenaran dan realitasnya.

Kemarahan ini tidak boleh dikekang. Bagi kalian yang sudah dewasa, kemarahan harus dihilangkan! Pengekangan kemarahan hanya akan menyisakan kejengkelan dan dendam. Itulah sebabnya harus dihilangkan. Bagi orang yang organ tubuhnya sudah menua, sangatlah riskan menyisakan kejengkelan dan dendam ini. Menumpuk kejengkelan dan dendam dalam diri kalian, ibaratnya menyimpan bom waktu yang akan meledak kapan saja.

Kemarahan ini punya pengaruh fisik yang kuat juga. Buktinya orang yang marah, napasnya akan tersengal-sengal. Suplai oksigen ke otak akan terganggu dan ini tidak bagus. Saat orang sedang marah, mukanya memerah dan tubuhnya bergetar. Ini juga tidak bagus. Kalau organ tubuh kita sudah menua, tentu saja hal-hal buruk bisa terjadi. Sekarang banyak sekali orang yang terkena serangan stroke dan gagal jantung, mungkin juga sesuai dengan jumlah peningkatan orang yang marah-marah, he he he…

Nah, kira-kira hanya itu ulasan yang bisa saya sampaikan untuk kalian. Kekurangannya kita akan sambung di lain waktu saja. Kita masih punya hari-hari yang lain bukan? Karena sekarang sudah hampir pagi. Kalian juga harus istirahat seperlunya.

Tukiyem: Iya Mbah, sekarang sudah mulai terasa. Mungkin mendengarkan ulasan Mbah Mangun tadi cukup menentramkan.

Robert:    Terima kasih banyak Mbah, saya akan selalu merenungkannya untuk bekal kedewasaan saya.

Kampret: Mbah, karena badan saya sudah mulai lemas, mohon ijin untuk rebahan di sini saja dulu. Biar besok agak siangan saja kami pulang.

Tukiyem: Ide yang bagus Kang, nanti saya akan masak untuk makan siang. Saya rasa kita tidak akan sarapan. Jadi sekalian saja makan siang bersama di sini.

Mangun:  Wah bagus itu, nanti biar kampret mengambil beberapa ekor lele di kolam. Sudah lama saya ingin makan ‘Mangut Lele’. Sayur bening bayam dan kacang panjang. Semuanya sudah ada di kebun ini. Kelapa muda juga banyak, tinggal dipetik saja. Bisa to, masak mangut lele Yem?

Tukiyem: Bisa Mbah, itu menu andalan saya di rumah untuk menyuap kang Kampret dan mertua saya. Ha ha ha….

Mangun:  Baiklah, ruangan tengah rumah ini cukup luas untuk kita tidur bertiga. Biarlah Tukiyem tidur di kamar saya saja.

 

Anjuran mbah Mangun seperti aba-aba untuk Tukiyem. Dia langsung berdiri menuju kamar tidurnya mbah Mangun. Badannya sudah lemas, tapi senyum yang mengembang di bibirnya, membuat Kampret tidak mengkawatirkan kesehatanya.

Robert juga berdiri menuju pelataran rumah untuk mencoba memadamkan bara api unggun. Walaupun sekedar bara, tetap saja disiramnya dengan se-ember air. Untuk memastikan apinya tidak menyala lagi apabila nanti tertiup angin.

Mbah Mangun segera menuju pakiwan dan membasuh mukanya. Disempatkannya menengok dapur, dan mematikan lampu dapur.

Kampret sibuk memberesi piring dan gelas, kemudian dikumpulkannya di pojok teras. Tikar yang ukurannya tidak umum itu segera dibersihkan dan digulung untuk dipindahkan ke ruang tengah.

Malam benar-benar sudah hampir berakhir, tapi keheningan desa Legok Geneng masih sangat terasa. Rumah di tepi desa ini kelihatan lengang, ditengah kicau burung di penghujung malam.

Demikianlah, penghuni rumah tua itu sudah berada di alam mimpinya masing-masing. Empat orang yang ada di dalam rumah tua itu, layaknya sebuah keluarga yang damai. Tapi mereka bukanlah keluarga dalam arti yang sebenarnya, sekalipun mereka berharap demikian.