Cucuku, hampir semua ajaran yang sudah dituturkan oleh para leluhur di muka bumi ini, mengarah pada jalan terang. Dan beliau mengajarkannya, tidak lain adalah untuk memberikan tuntunan hidup bagi anak cucu yang mereka cintai. Agar selalu berada pada jalan hidup yang benar. Jalan hidup yang membawa kita semua pada kemuliaan dan kebahagiaan.

Karena tujuan beliau sudah jelas, membawa kita semua pada jalan hidup yang terang, maka Beliau semua mengajarkannya segamblang mungkin dan se-terang mungkin. Kalian juga harus tahu, landasan Beliau mewariskan tuntunan hidup ini selalu dilandasi kecintaan pada anak cucu Beliau. Dengan demikian, sudah bisa dipastikan kalau Beliau tidak mungkin menurunkan ajaran-ajaran yang membingungkan.

Tetapi cucuku, sungguh aneh apabila sekarang ini, kalian mendapatkan begitu banyak ajaran yang membingungkan. Bahkan mereka yang mencoba mengajarkan kembali ajaran-ajaran tersebut, saling menuding bahwa ajaran yang diajarkan pihak lain adalah keliru. Untuk itu, kalian semua harus hati-hati mempelajari ajaran-ajaran para leluhur ini. Perlu kesabaran, ketelitian yang mendalam serta pengamatan yang tajam untuk melihat apa yang ada disekeliling kita, dan apa yang tertulis di dalam buku-buku itu. Cara yang paling sederhana, agar kalian tidak terperosok dalam jebakan ajaran keliru adalah dengan mencoba mempraktekannya pelan-pelan. Apabila ajaran itu membuatmu ‘Tentram’ dan ‘Nyaman’, serta disenangi teman-teman kalian, maka ajaran itu adalah ajaran yang baik.

Nah, mengapa semua kekacauan ini bisa terjadi? Mengapa ajaran-ajaran para leluhur tersebut menjadi sulit dipahami? Dengan keterbatasan penalaran dan dangkalnya pikiran simbah, ada beberapa hal yang mungkin menjadi penyebabnya. Mulai dari masalah sosial dan budaya misalnya, bisa juga menjadi penyebabnya. Sistem tatanan sosial dan budaya pada masa dahulu dengan masa sekarang sangat berbeda. Perkembangan budaya dan tata cara hidup manusia dari jaman ke jaman yang berbeda ini, bahkan bisa membingungkan bagi beberapa orang. Misalkan saja cara pengobatan pada jaman dahulu, sangat berbeda dengan masa sekarang. Beberapa bisa dijelaskan dengan akal sehat, tapi beberapa hal menjadi sangat aneh. Inilah kira-kira yang menjadikan begitu banyak hal yang tertulis di dalam buku-buku itu menjadi sulit dipahami pada masa sekarang.

Masalah bahasa juga begitu dominan, terutama pemakaian istilah-istilah lokal pada masa penulisan dan masa sekarang sungguh jauh berbeda. Kemalasan juga mendorong terjadinya pergeseran ajaran. Banyak diantara kita yang kurang sabar dalam banyak hal. Saat belajar juga demikian, mereka ingin cepat menguasai pelajaran, akhirnya mereka belajar secara serampangan dan kurang ketelitian. Banyak tulisan yang seharusnya tidak bisa dihilangkan, namun mereka sering kali merangkum dan mempersingkat isi buku.

Dan mungkin masih banyak penyebab lainnya, yang membuat ajaran para leluhur ini bergeser yang belum simbah ketahui. Tetapi ada satu sebab yang sangat menarik untuk kita selami sekarang. Yaitu kemungkinan adanya kesengajaan oleh orang-orang yang kurang bijaksana, pada setiap masa tertentu, dalam waktu yang cujkup lama. Nah cucuku, marilah kita bersama-sama meneliti bagaimana ini semua bisa terjadi. Bagaimana, kalian sudah siap mendengarkan simbah tentang ‘Fenomena Terang dan Gelap?’ dengarkan baik-baik, mengapa juga simbah sebut fenomena.

Cucuku, pada dasarnya manusia lebih senang pada situasi yang terang dan tidak senang berada dalam situasi yang gelap. Gelap dan terang yang simbah maksud ini bisa memiliki arti yang sebenarnya, yaitu ada hubungannya dengan cahaya dan penerangan lampu. Atau yang berhubungan dengan kondisi dan situasi yang jelas dan kurang jelas dari suatu permasalahan. Keduanya sama-sama mengarah pada kejelasan. Kejelasan obyek benda yang berhubungan dengan mata, itu ditentukan oleh cukup dan tidaknya cahaya. Sedangkan kejelasan obyek gagasan yang berhubungan dengan pikiran, ditentukan oleh cukupnya keterangan lisan dan tulisan.

Orang lebih suka berada pada tempat yang terang. Beberapa orang bahkan merasakan ketakutan di dalam kegelapan. Dan sudah menjadi naluri manusia untuk selalu berada dalam kondisi terang dan menghindari kegelapan. Orang bekerja pada siang hari karena adanya matahari yang memberikan cukup penerangan dan istirahat di malam hari karena tidak adanya matahari yang menyebabkan kurangnya penerangan. Sekarang orang sudah mulai bekerja pada malam hari, dengan penerangan buatan berupa lampu-lampu yang cukup. Kalian semua harusnya tahu, mengapa  manusia pada umumnya merasa takut di dalam kegelapan?  Menurut penalaran pikiran yang standart, beberapa orang menyebutnya ‘menurut akal sehat’,…. he he he. Kita semua tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi atau menimpa diri kita.  Simbah sering menyebutkan bahwa salah satu ciri manusia hidup itu selalu bergerak. Kalau bukan badannya yang bergerak, ya pikirannya yang bergerak. Nah, kalau kalian tidak bisa melihat apa-apa karena gelap, bukankah menjadi wajar kalau kalian merasakan kekawatiran akan terjatuh atau menabrak sesuatu di sekeliling kalian? Demikian juga saat kalian tidak mendapatkan kejelasan tentang suatu persoalan, bukankah kalian tidak bisa membuat keputusan?

Cucuku, dari keterangan simbah dan penalaran kalian, setujukah kalian bila simbah memastikan sekali lagi bahwa hampir semua manusia lebih memilih tempat yang terang, jalan yang terang dan cara hidup yang jelas ketimbang kegelapan dan cara hidup yang tidak jelas?

Tetapi cucuku, ada kejanggalan yang aneh, dalam kehidupan nyata sehari-hari kita. Nah inilah yang sangat menarik, coba dengarkan baik-baik. Menurut akal sehat, semua orang memilih terang ketimbang gelap. Namun beberapa orang lebih senang sembunyi-sembunyi, sengaja mencari gelap. Aneh bukan? Bagaimana, bukankah seharusnya kita menjalani hidup ini sesuai dengan akal sehat? Namun kenyataanya, kita hidup bertentangan dengan akal sehat ini. Banyak diantara kita, dalam waktu tertentu senang bersembunyi dalam kegelapan. Banyak diantara kita dalam waktu tertentu senang memberikan keterangan yang berbelit-belit.

Demikianlah mengapa simbah menyebutnya ‘Fenomena’ Terang dan Gelap. Karena sulitnya kita memahami cara hidup manusia ini.

Cucuku, setelah simbah menyelidikinya, semua orang yang menyukai kegelapan itu ternyata sedang atau berupaya untuk  ‘menyembunyikan’ sesuatu. Dari kegiatan di dalam kegelapan inilah, mereka mendapatkan keuntungan-keuntungan.

Mereka yang menyebut dirinya pintar, saking pintarnya mungkin. Bahkan bisa membuat proyeksi atas gelap(resiko) ini, yang disandingkan dengan keuntungan. Nah cucuku, saat kalian melakukan kecurangan, dan kecurangan kalian tidak ingin terlihat oleh orang lain, bukankah kalian akan menutup-nutupinya? Kalian mencoba menciptakan kegelapan untuk mengaburkan kecurangan kalian? Nah, pada saat kalian menciptakan kegelapan itulah kalian sedang mengingkari akal sehat kalian sendiri. Dimana terang adalah pilihan akal sehat, sedangkan kegelapan adalah kondisi yang selalu dihindari oleh akal sehat. Dalam masalah ini, harusnya kalian tidak perlu berpikir terlalu jauh tentang Norma, Dosa, Ajaran-Ajaran Leluhur. Cukup dengan memahami uraian simbah tadi, kalian harusnya malu pada diri sendiri. Malu pada akal sehat kalian masing-masing. Dimana, Terang dan Jelas adalah tempat dan jalan yang harus kalian pilih. Kecuali kalian tidak malu dikelompokkan ke dalam rombongan orang bingung…. he he he…

Cucuku, apakah kalian sudah bisa menyimpulkan pelajaran apa-saja yang bisa diambil dari pemahaman tentang fenomena ini?

Pertama-tama, kalian sudah tahu bahwa pada dasarnya, semua orang itu menginginkan kejelasan, jadi kalian harusnya bisa menjadi orang yang bisa dipercaya dengan cara hidup yang jelas. Dengan demikian kalian akan disukai oleh teman-teman dan saudara-saudara kalian. Apabila kalian menjalani hidup ini dengan cara yang tidak jujur, maka sudah dipastikan kalian tidak disukai teman-teman dan saudara-saudara kalian.

Yang kedua, kalian juga bisa memahami kawan dan orang-orang di sekeliling kalian. Apabila kalian bertemu dengan seseorang yang memberikan keterangan kurang jelas, berbelit-belit, maka kalian harus waspada. Karena orang-orang dengan ciri-ciri semacam ini, kemungkinan besar sedang menyembunyikan sesuatu, bahkan berencana mengambil keuntungan dari kalian.

Ke tiga, kembali pada awal pembicaraan kita. Kalau kalian bertemu dengan guru yang mengajarkan ajaran dengan cara berbelit-belit, kurang jelas. Ada kemungkinan guru tersebut mencoba menjual ajaran. Mereka berharap mendapatkan keuntungan dari kurang jelasnya ajaran yang disampaikannya dengan berbelit-belit. Memang ada ajaran-ajaran yang rumit, tidak lain karena tahapan kalian belum sampai pada ajaran yang bersangkutan. Karena memang ajaran itu bertingkat. Ada ajaran yang hanya bisa dipahami oleh orang yang tua dan matang. Tapi kalau ajaran sederhana yang sengaja dibuat sulit, maka jelas mereka sedang menyembunyikan sesuatu dan berupaya mendapatkan keuntungan dari sana.

Demikianlah yang simbah ketahui tentang gelap dan terang. Hanya itu! Jangan berharap banyak, karena yang simbah tahu ya hanya itu. He he he….